Bolehkah orang Kristen mengikuti MBTI? Di mana batas antara tes kepribadian dan ramalan nasib
"Apakah orang Kristen boleh melakukan tes MBTI?" Pertanyaan ini sebenarnya cukup sering ditanyakan di gereja, dan jawabannya sering kali di luar dugaan—sebagian besar gereja tidak hanya menentangnya, tetapi bahkan secara aktif menggunakannya. Namun, sikap dari kelompok orang yang sama terhadap kartu tarot dan ramalan nasib justru sangat jelas: tidak boleh. Sama-sama merupakan alat untuk "mengenali diri sendiri", mengapa perlakuan yang didapat bisa begitu berbeda? Artikel ini akan membahas di mana batas tersebut berada, serta mengapa Enneagram jatuh ke dalam zona abu-abu di tengah-tengahnya.
Pertama-tama lihat apa kata Alkitab: jenis apa yang dilarang
Imamat pasal delapan belas ayat sepuluh sampai dua belas dalam Perjanjian Lama mencantumkan sebuah daftar hal-hal yang secara tegas dilarang, termasuk ramalan, menafsirkan pertanda, menggunakan ilmu hitam, melakukan sihir, menggunakan ilmu sihir, memanggil arwah, melakukan tenung, dan memanggil kembali roh orang mati. Ayat Alkitab ini adalah dasar yang paling sering dikutip untuk menentang ramalan dan peramalan dalam Kekristenan.
Jika diperhatikan dengan cermat, daftar ini akan menunjukkan satu kesamaan: perilaku-perilaku ini melibatkan "memperoleh pengetahuan yang seharusnya milik Tuhan melalui saluran supranatural" — apa yang akan terjadi di masa depan, apa fakta yang tersembunyi, dan bagaimana cara memanipulasi hasil. Inti dari larangan ini bukanlah "ingin memahami diri sendiri", melainkan melompati Tuhan untuk mencari pengetahuan tersebut dan Strength.
Perjanjian Baru juga memiliki catatan terkait, misalnya Kisah Para Rasul bab 16 menyebutkan Paulus mengusir roh tenung dari seorang perempuan hamba, dan bab 19 mencatat orang-orang percaya di Efesus secara terbuka membakar buku-buku ilmu hitam. Sikap secara keseluruhan sangat konsisten.
Mengapa Tes Kepribadian Adalah Hal yang Berbeda
Cara kerja alat seperti MBTI, DISC, dan Big Five sama sekali berbeda: alat-alat tersebut adalah kuesioner laporan mandiri, kamu menjawab preferensimu, dan sistem merapikan sebuah deskripsi untuk kamu lihat. Tidak ada komponen supernatural apa pun, dan juga tidak mengklaim mengetahui masa depanmu.
Dari sifat dasarnya, ini lebih mirip cermin atau satu set bahasa klasifikasi. Ini merapikan pemahaman diri kamu yang tadinya masih samar menjadi lebih jelas, membuatmu lebih mudah menjelaskan kepada orang lain "aku berfungsinya seperti ini". Ini berlawanan dengan logika ramalan kartu—ramalan kartu mengklaim ada informasi yang tidak kamu ketahui, sedangkan tes kepribadian merapikan hal-hal yang sudah kamu ketahui tetapi sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Jadi, sebagian besar gereja memandang tes kepribadian sebagai alat psikologi di bawah anugerah umum yang boleh digunakan, tetapi tidak boleh menggantikan doa, Alkitab, dan ketajaman rohani. Posisi "bisa digunakan tapi bukan otoritas tertinggi" ini adalah kesepakatan yang cukup umum.
Bagaimana Gereja Menggunakan Tes Kepribadian Secara Aktual
MBTI cukup umum digunakan dalam gereja, paling sering ditemukan dalam kerja sama antar pelayan dan kepemimpinan kelompok kecil. Mengetahui apakah seseorang cenderung introvert atau ekstrovert dapat membantu kamu agar tidak memksa orang yang pendiam untuk memimpin sesi ice breaking; mengetahui apakah seseorang cenderung thinking atau feeling dapat membantu kamu memahami alasan di balik cara ekspresi mereka saat melakukan kunjungan kasih yang berbeda darimu.
DISC sangat umum ditemukan di lingkungan gereja maupun tempat kerja karena arsitekturnya yang berempat tipe sederhana dan mudah diingat, sehingga cocok untuk komunikasi tim. Cukup banyak program pelatihan pemimpin gereja yang memasukkan DISC untuk mendiskusikan penanganan konflik dan pembagian tugas.
Ada lagi kategori tes karunia, yaitu alat khusus gereja yang dirancang berdasarkan daftar karunia yang tercantum dalam 1 Korintus 12, Roma 12, dan Efesus 4. Perlu diperhatikan bahwa tes karunia dan tes kepribadian berbeda dalam konsep: kepribadian membahas bagaimana kamu beroperasi, sedangkan karunia membahas kapasitas pelayanan yang diberikan Tuhan kepadamu, keduanya tidak boleh disamakan.
Mengapa Enneagram Menimbulkan Perdebatan
Situasi Enneagram di kalangan Kristen adalah yang paling rumit. Pihak yang mendukung memiliki bobot yang cukup besar—buku karya Pendeta Fransiskan Richard Rohr yang berjudul "Enneagram: Christian Perspective", serta "The Road Back to You" karya Ian Cron dan Suzanne Stabile adalah karya-karya yang beredar luas, dan tidak sedikit gereja evangelis Amerika serta kelompok retret Katolik menggunakan Enneagram sebagai alat pertumbuhan rohani, karena hal yang dibahasnya adalah motivasi inti dan kecenderungan dosa batiniah, yang memiliki resonansi dengan ajaran Kristen tentang "mengenali kelemahan diri sendiri".
Sebaliknya, pihak yang menentang justru mempertanyakan sumbernya. Bentuk modern dari Enneagram terutama disebarkan oleh Oscar Ichazo dan Claudio Naranjo pada abad kedua puluh, di mana latar belakang kedua tokoh tersebut bernuansa mistis, sementara tradisi awal Enneagram dikabarkan berkaitan dengan Sufisme. Para kritikus berpendapat bahwa sumber semacam itu tidak cocok untuk dijadikan alat panduan spiritual.
Di sisi Katolik, Vatikan dalam dokumen "Yesus Kristus, Pembawa Air Hidup" yang diterbitkan pada tahun 2003, memasukkan Enneagram ke dalam diskusi terkait Gerakan Zaman Baru dan menyatakan sikap cadangan. Konferensi Waligereja Amerika Serikat juga pernah merilis dokumen evaluasi tentang Enneagram, dengan sikap berhati-hati alih-alih melarang secara menyeluruh.
Oleh karena itu, dalam praktiknya kamu akan melihat: di dalam mazhab yang sama, ada gereja yang menggunakan Enneagram sebagai materi kelompok kecil, ada juga gereja yang dengan jelas tidak menyarankan penggunaannya. Ini bukanlah masalah siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan kelompok yang berbeda memiliki penilaian yang berbeda terhadap "apakah sumber memengaruhi alat itu sendiri".
Bagaimana Membuat Batasan untuk Diri Sendiri
Jika kamu seorang penganut Kristen dan tertarik dengan alat semacam ini, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantumu menilai. Pertama, apakah alat ini mengeklaim tahu masa depanmu? Jika iya, maka itu sudah melewati batas. Kedua, apakah alat ini memintaku menggunakan ritual, benda tertentu, atau perantara untuk mendapatkan jawaban? Tindakan melempar undian, menarik kartu, atau meramal semuanya termasuk dalam kategori ini. Ketiga, ketika aku menggunakannya, apakah aku memandangnya sebagai referensi untuk memahami diri sendiri, atau sebagai dasar dalam mengambil keputusan?
Mayoritas pendeta akan menekankan poin ketiga. Laporan 16 tipe kepribadian yang sama, jika digunakan untuk memahami perbedaan antara diri sendiri dan rekan kerja, adalah hal yang sehat; tetapi jika dijadikan alasan untuk berkata "aku memang tipe seperti ini jadi aku tidak perlu berubah", itu akan berubah menjadi belenggu jenis lain. Alat itu sendiri bersifat netral, cara penggunaannya menentukan posisinya.
Selain itu, hal lain yang layak disebutkan adalah: bagi sebagian orang percaya, bahkan untuk alat yang diizinkan sekalipun, jika setelah menggunakannya mereka mendapati diri mereka semakin bergantung pada label alih-alih doa dan saran dari komunitas, itu juga merupakan sinyal yang layak untuk berhenti dan melakukan penyesuaian. Penilaian ini bersifat sangat pribadi, dan berdiskusi dengan orang tua rohani atau pendeta di gereja akan jauh lebih membantu daripada bergumul sendirian.
Bagaimana agama lain memandangnya
Sikap Gereja Katolik mendekati Protestan: Kitab Katekismus Gereja Katolik nomor 2116 secara tegas menentang segala bentuk ramalan, termasuk memanggil arwah, astrologi, membaca garis tangan, tafsir mimpi, dengan alasan bahwa praktik-praktik tersebut bertentangan dengan rasa takut dan kepercayaan kepada Tuhan; tetapi relatif terbuka terhadap alat-alat psikologi.
Sikap agama Buddha dan Taoisme berbeda. Numerologi dan pemilihan hari baik diterima secara luas dalam praktik budaya Buddhisme Tiongkok dan Taoisme; namun, ajaran Buddhis menekankan bahwa sebab-akibat dan karma dapat diubah melalui kultivasi diri, dan tidak menganjurkan takdir yang kaku. Beberapa biksu juga mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada ramalan.
Islam dalam hal ini mendekati posisi Kekristenan, secara tegas melarang ramalan kartu dan peramalan nasib. Pada praktiknya, sebagian besar agama monoteistik memiliki sikap cadangan yang sama terhadap hal yang "mengklaim tahu masa depan", perbedaannya terutama terletak pada keterbukaan terhadap alat psikologi.
Dari sudut pandang pengorganisasian informasi: artikel ini hanya menjelaskan pandangan umum dari setiap agama, dan tidak mewakili interpretasi resmi agama apa pun. Praktik dari masing-masing gereja, kuil, dan kelompok bisa sangat berbeda, jadi untuk praktik keagamaan yang sebenarnya, silakan jadikan panduan komunitas agamamu sebagai acuan.
Pertanyaan Umum FAQ
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined