Bagaimana menjadi tegas? 7 latihan memecahkan kesulitan memilih
Apakah kamu sering kali seperti ini: berdiri di depan toko minuman menatap menu, ketika pelayan bertanya untuk ketiga kalinya "sudah diputuskan belum", kamu masih berjuang sengit antara "milk tea" atau "four seasons oolong". Atau terdapat tiga jaket di keranjang belanja online, membandingkan harga, membaca ulasan, bertanya pada teman, menghabiskan waktu seminggu namun pada akhirnya satupun tidak dibeli. Keraguan dalam memilih bukanlah karena kamu terlalu banyak berpikir, melainkan sejenis reaksi alami otak saat menghadapi pilihan. Artikel ini akan membawamu membedah empat akar psikologis di balik keragu-raguan, memahami apa itu "kelelahan pengambilan keputusan", lalu memberimu metode yang benar-benar dapat digunakan, membiarkanmu berlatih mengambil keputusan secara tegas mulai dari keputusan-keputusan kecil, dan perlahan-lahan memperluas ketetapan hati ini ke pilihan-pilihan besar dalam hidup. Poin utamanya bukanlah menjadi orang yang impulsif, melainkan belajar membuat pilihan secara tegas dalam rentang yang wajar.
Mengapa kamu selalu ragu memilih? Empat akar penyebab umum
Keragu-raguan jarang sekali hanya disebabkan oleh satu alasan tunggal, melainkan gabungan dari beberapa faktor psikologis. Yang pertama adalah "takut menyesal". Otak kita memiliki tingkat kepekaan terhadap kehilangan yang sering kali lebih tinggi daripada ekspektasi terhadap perolehan, sehingga setelah memilih A, kita tidak bisa menahan diri untuk membayangkan apakah memilih B akan menjadi lebih baik. "Ketakutan akan penyesalan" semacam ini membuat seseorang ragu-ragu untuk bertindak, karena selama tidak membuat keputusan, semua kemungkinan masih tersimpan sehingga tidak perlu menanggung rasa sakit akibat salah pilih.
Yang kedua adalah "mengejar solusi terbaik". Psikologi membagi manusia secara garis besar menjadi dua gaya pengambil keputusan: yang pertama adalah "maksimizer", yang ingin menemukan opsi terbaik dalam segala hal; yang kedua adalah "pemuas", yang berhenti begitu menemukan opsi yang cukup bagus. Maksimizer biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu mengumpulkan informasi dan membandingkan secara berulang, tetapi penelitian menemukan bahwa setelah membuat keputusan, mereka justru lebih mudah merasa tidak puas karena selalu merasa masih ada opsi yang lebih baik yang belum ditemukan.
Hal ketiga adalah "memedulikan pandangan orang lain". Sering kali kita terjebak bukan karena diri sendiri tidak punya jawaban, melainkan karena takut dinilai setelah memilih: apakah teman akan merasa selera burukku, apakah keluarga akan menentang. Ketika standar keputusan berubah dari "apa yang kuinginkan" menjadi "bagaimana orang lain melihatnya", pilihan-pilihan akan mengembang tanpa batas. Dan hal keempat adalah "kelebihan informasi". Terlalu banyak informasi di era internet, ulasan, unboxing, dan tabel perbandingan tidak ada habisnya, semakin banyak pilihan justru semakin sulit untuk memilih, yang dalam psikologi disebut sebagai "paradoks pilihan".
Keempat akar penyebab ini sering kali bukanlah hal yang berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat satu sama lain. Sebagai contoh, seseorang yang takut akan penyesalan, saat menghadapi kelebihan informasi akan semakin ingin membaca semua ulasan, dengan berupaya menggunakan "informasi yang cukup" untuk menghilangkan risiko salah pilih; seseorang yang peduli dengan pandangan orang lain, akan mudah terjebak dalam jebakan maksimisasi, karena apa yang ia cari bukan hanya kepuasan dirinya sendiri, melainkan juga sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan kepada orang lain sebagai "yang terbaik". Mengenali di mana letak hambatanmu jauh lebih berguna daripada memksa diri untuk cepat-cepat mengambil keputusan. Lain kali saat kamu kembali terjebak dalam keraguan, kamu bisa berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya yang sedang kutakuti saat ini, apakah takut salah pilih, ingin mencari yang terbaik, takut dengan pandangan orang lain, atau sekadar tenggelam oleh terlalu banyak informasi? Hanya dengan memperjelas letak kemacetan itu, kecemasan biasanya sudah berkurang setengahnya.
Kelelahan dalam pengambilan keputusan: tekadmu sebenarnya bisa habis
Pernahkah kamu menyadari, setelah seharian penuh, malam hari justru menjadi lebih sulit membuat keputusan? Pagi hari masih bisa merencanakan pekerjaan dengan segar, menjelang senja bahkan makan malam apa pun malas berpikir, dan akhirnya memesan makanan antar-gelombang yang sama. Inilah ulah dari "kelelahan pengambilan keputusan". Setiap kali membuat pilihan, tidak peduli besar atau kecil, akan mengonsumsi sedikit sumber daya kognitif, jika ditumpuk, pada akhirnya kualitasmu dalam membuat keputusan akan menjadi Descendant, entah menjadi impulsif, atau langsung menghindar dan tidak memilih.
Memahami kelelahan pengambilan keputusan dapat membantumu menata ulang kehidupan. Salah satu praktik yang sering disebutkan adalah menempatkan keputusan-keputusan penting di waktu terbaik saat kondisi mental sedang prima, biasanya di pagi hari atau sesaat setelah beristirahat. Pada saat yang sama, "otomatisasikan" keputusan-keputusan kecil sehari-hari untuk mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu. Sebagian orang menetapkan menu sarapan untuk seminggu atau menyederhanakan pakaian hari kerja menjadi beberapa set pakaian tetap, semata-mata demi menyisihkan daya pengambilan keputusan yang berharga untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Kunci lainnya adalah beristirahat pada waktu yang tepat. Ketika kamu mendapati dirimu melamun menatap pilihan-pilihan, semakin dipikir semakin kacau, hal itu sering kali bukanlah karena pilihannya yang terlalu sulit, melainkan otakmu yang lelah. Pada saat ini, memaksa diri membuat keputusan sebagian besar hanya akan menghasilkan pilihan yang kusesali. Tinggalkan lokasi terlebih dahulu, makan sesuatu, tidur, dan lihat keesokan harinya, sering kali kamu akan mendapati bahwa jawabannya sebenarnya sangat jelas.
Perlu diingatkan bahwa kelelahan dalam mengambil keputusan tidak hanya terjadi pada pilihan-pilihan besar, melainkan lebih banyak terkikis secara perlahan oleh berbagai keputusan kecil yang tak terhitung jumlahnya sepanjang hari. Mulai dari jam berapa bangun pagi, membalas pesan yang mana, minuman apa untuk pendamping makan siang, hingga apakah perlu mampir ke supermarket sepulang kerja, penjumlahan dari pilihan-pilihan yang tampak sepele ini mengonsumsi sumber daya kognitif yang tidak sedikit. Inilah juga alasan mengapa mematikan bagian dalam kehidupan yang dapat dibuat tetap terlebih dahulu, justru dapat membuatmu lebih sadar dan lebih tegas pada saat-saat yang benar-benar membutuhkan pemikiran. Mengurangi jumlah pilihan terkadang lebih realistis daripada meningkatkan kemampuan memilih.
Daripada memikirkan ulang setiap saat, lebih baik buat aturan untuk pilihan yang berulang kali muncul. Contohnya "makan siang hari kerja hanya berputar di antara ketiga tempat ini", "anggaran jaket di atas dua juta tidur dulu semalam baru putuskan". Begitu aturan ditetapkan, kamu tidak perlu lagi pusing memikirkannya saat itu juga.
Cukup baik: Kebijaksanaan dari *satisficing*
Jika kamu sering disandera oleh "ingin menemukan yang terbaik", maka konsep "cukup baik sudah cukup" ini mungkin bisa menyelamatkan hidupmu. Konsep ini berasal dari satisficing dalam penelitian pengambilan keputusan, yang artinya menetapkan "standar yang dapat diterima" terlebih dahulu, selama menemui opsi yang sesuai dengan standar maka langsung diputuskan, tidak lagi bersusah payah mengejar jawaban yang secara teoretis paling sempurna, namun mungkin tidak akan pernah kamu temukan.
Ambil contoh dalam kehidupan sehari-hari: saat kamu ingin membeli ponsel baru, alih-alih merinci tabel spesifikasi semua merek di pasaran sampai pusing, lebih baik tentukan tiga hal yang benar-benar kamu pedulikan terlebih dahulu. Misalnya, anggaran di bawah satu setengah juta, kamera harus bagus, dan baterai cukup untuk seharian. Setelah itu, asalkan ada satu ponsel yang memenuhi ketiga poin tersebut, ponsel itu sudah layak dibeli. Kamu tidak perlu lagi membuang waktu seminggu untuk pusing memikirkan selisih performa 5% yang ekstra itu. Sering kali, selisih 5% ini hanya berdampak kecil pada kehidupan nyata kamu.
"Cukup baik saja" bukanlah menyuruhmu untuk sembarangan, melainkan mencurahkan tenaga pada hal yang tepat. Keputusan yang benar-benar besar dan tidak dapat diubah, misalnya mengganti pekerjaan, membeli rumah, tentu layak untuk meluangkan lebih banyak waktu; tetapi sebagian besar pilihan dalam hidup bersifat dapat diubah dan memiliki dampak yang terbatas. Untuk hal-hal tersebut, gunakan strategi satisficer untuk melewatinya dengan cepat, agar kamu memiliki sisa kelonggaran untuk mengelola bagian yang benar-benar penting. Penelitian juga menemukan bahwa para satisficer setelah mengambil keputusan biasanya merasa lebih puas dan lebih bahagia daripada para maximizer.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena seorang maximizer (pencari yang terbaik), bahkan jika telah memilih opsi yang secara objektif lebih baik, akan merasa sangat sulit untuk menurunkan standar "apakah masih ada yang lebih baik" di dalam hatinya, sehingga ia terus-menerus membandingkan pilihannya sendiri dengan skenario sempurna yang tidak dipilih di dalam imajinasinya, yang secara alami berujung pada rasa kehilangan. Sebaliknya, seorang satisficer (pencari yang cukup) karena sejak awal telah menerima premis "cukup baik", maka setelah memilih akan lebih mampu menikmati hasil di depan mata dengan tenang. Dengan kata lain, bahagia atau tidak terkadang bukan ditentukan oleh apa yang kamu pilih, melainkan ditentukan oleh mentalitas apa yang kamu gunakan dalam memandang pilihanmu sendiri. Belajar menjadi seorang satisficer dalam sebagian besar hal kecil pada dasarnya adalah kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan baik.
Tujuh Latihan Ketegasan yang Bisa Langsung Dipraktikkan
Memahami teori saja tidak ada gunanya, karena sikap tegas adalah otot yang bisa dilatih. Berbagai metode di bawah ini tidak mengharuskanmu mengubah kepribadian secara besar-besaran, di mana kamu bisa mulai mencoba satu atau dua metode sejak hari ini. Disarankan untuk mulai melatihnya dari keputusan kecil berisiko rendah, mengumpulkan pengalaman "aku mengambil keputusan, dan semuanya baik-baik saja" dari waktu ke waktu, agar otak perlahan-lahan percaya bahwa "salah memilih pun ternyata tidak begitu menakutkan".
Sekadar mengingatkan, tidak perlu langsung menerapkan ketujuh metode sekaligus, hal itu justru akan menjadi jenis hambatan pilihan yang lain. Pilihlah satu atau dua metode yang menurutmu paling nyaman dan paling mendekati situasi kebuntuanmu untuk dicoba terlebih dahulu, jika sudah terbiasa baru ditambahkan. Sebagai contoh, jika masalahmu terutama terletak pada "terlalu lama berpikir saat memesan makanan atau membeli barang kecil", maka berlatihlah "menetapkan batas waktu" dan "membuat keputusan kecil dengan cepat" terlebih dahulu; jika yang membuatmu terjebak adalah hal besar seperti pindah kerja atau memilih jurusan, maka "mengurutkan nilai" dan "cukup baik sudah cukup" akan lebih tepat sasaran. Memecah latihan menjadi bagian kecil dan dapat dilakukan, lebih mudah untuk dipertahankan daripada melakukan perombakan besar-besaran sekaligus.
- Menetapkan batas waktu: Berikan tenggat waktu yang jelas untuk setiap keputusan. Memesan makanan 30 detik, membeli kebutuhan sehari-hari 5 menit, memilih restoran 10 menit, ketuk palu jika waktu habis. Batasan waktu dapat memaksa otak berhenti mengumpulkan informasi tanpa batas.
- Cukup baik: Tentukan dulu "standar yang dapat diterima", temui yang sesuai lalu pilih, jangan mengejar kesempurnaan lagi.
- Metode pilihan ganda dua: saat opsi terlalu banyak, cepat hapus sampai tersisa dua saja, lalu pilih dari dua ini. Otak membandingkan dua hal, jauh lebih mudah daripada menimbang sepuluh hal sekaligus.
- Urutkan nilai hidup: Saat menghadapi keputusan besar, daftarkan faktor-faktor yang kamu pedulikan dan buat prioritasnya, lalu lihat pilihan mana yang paling sesuai dengan satu atau dua hal yang paling kamu hargai.
- Keputusan kecil dibuat dengan cepat: untuk urusan sehari-hari (mau makan apa, pakai baju apa, nonton film apa), tetapkan aturan pada diri sendiri untuk memutuskan dalam 10 detik, dan tingkatkan jumlah latihannya.
- Metode melempar koin: Bukan berarti benar-benar mengikuti hasil koin tersebut, melainkan pada detik saat koin berputar, rasakan sisi mana yang secara diam-diam kamu harapkan untuk muncul. Itulah biasanya hal yang sebenarnya kamu inginkan.
- Tanyakan pada diri di masa depan: Bayangkan dirimu satu tahun kemudian menengok ke belakang, apakah akan peduli dengan keputusan ini? Sebagian besar hal kecil sama sekali tidak penting dalam waktu satu tahun, ini dapat langsung menurunkan tekanan saat ini.
Maximizer vs. Satisficer: kamu termasuk yang mana?
Memahami kecenderungan pengambilan keputusan adalah langkah pertama menuju perubahan. Pemaksimal (maximizer) dan pemuas (satisficer) tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi di era informasi yang meledak ini, kecenderungan pemaksimal yang berlebihan sering kali membuat orang kelelahan dan tidak bahagia. Lihatlah perbandingan di bawah ini, sisi mana yang lebih mirip dengan dirimu? Setelah mengenali polamu sendiri, kamu bisa dengan sengaja menyesuaikannya ke arah yang lebih nyaman.
Jika kamu mendapati dirimu jelas-jelas condong ke sisi kiri, jangan buru-buru menyangkal diri sendiri, niat "ingin melakukan yang terbaik" ini sebenarnya sangat berharga, hanya saja kamu perlu belajar menggunakannya di tempat yang tepat. Kamu bisa berlatih untuk menyisihkan energi maksimal untuk keputusan yang benar-benar penting, dan membiarkan dirimu menjadi seseorang yang puas (satisficer) untuk hal-hal lainnya. Memiliki kesadaran lebih terhadap gaya pengambilan keputusanmu, juga dapat membantumu melihat pola pikir kebiasaan saat menghadapi pilihan melalui alat seperti tes kepribadian MBTI 16 tipe, serta menemukan arah penyesuaian yang lebih cocok.
Pencari maksimal
- Ingin Menemukan Pilihan Terbaik dalam Segala Hal
- Mengumpulkan Banyak Informasi dan Membandingkannya Berulang Kali
- Setelah membuat keputusan masih sering berpikir "apakah ada pilihan yang lebih baik"
- Semakin banyak pilihan semakin cemas
- Sering Sulit Mencapai Keputusan Akhir Karena Detail Kecil
Sang pemuas
- Langsung Putuskan Begitu Menemukan yang Sesuai Standar
- Berhenti Begitu Menetapkan Ambang Batas yang Cukup Baik
- Jarang Menengok ke Belakang dengan Menyesal Setelah Membuat Keputusan
- Tahu Cara Menyaring Terlebih Dahulu Saat Menghadapi Banyak Pilihan
- Menyimpan Energi untuk Hal-Hal yang Benar-Benar Penting
Belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian
Orang yang tegas bukan karena mereka dapat melihat masa depan, tahu pilihan mana yang pasti benar, melainkan karena mereka menerima satu hal: hidup memang penuh dengan ketidakpastian, tidak ada keputusan apa pun yang dapat membuatmu memastikan keselamatan sempurna terlebih dahulu. Inti dari keragu-raguan sering kali adalah ingin melenyapkan semua risiko baru mau bertindak, namun ini sering kali tidak bisa dilakukan dalam kenyataan. Semakin ingin kamu menggenggam kepastian, semakin kamu justru tersangkut.
Peralihan pola pikir yang membantu adalah melihat keputusan sebagai "eksperimen" alih-alih "keputusan akhir" Judgement. Sebagian besar pilihan sebenarnya dapat disesuaikan dan diulang kembali: salah memesan minuman tinggal ganti lain kali, salah membeli baju bisa dikembalikan atau diberikan kepada orang lain, bahkan pilihan pekerjaan yang tampaknya besar, jika menjalaninya dan tidak suka masih ada langkah berikutnya. Ketika kamu tidak lagi memperlakukan setiap keputusan sebagai hal yang menentukan seumur hidup, tekanan di pundak akan jauh lebih ringan, dan secara alami kamu akan berani mengambil keputusan.
Jangan lupa juga untuk bersikap lebih toleran terhadap diri sendiri. Salah memilih bukan berarti kamu bodoh atau gagal, itu hanya berarti kamu membuat penilaian yang paling masuk akal pada saat itu dengan informasi yang terbatas. Penilaian setelah kejadian selalu terasa lebih mudah. Ketegasan yang benar-benar matang adalah menerima bahwa "aku mungkin salah memilih, tetapi aku bersedia bertanggung jawab atas pilihanku sendiri dan belajar darinya". Ketika kamu bisa berpikir seperti ini, proses membuat keputusan perlahan-lahan akan berubah dari sebuah penyiksaan menjadi sebuah bentuk kebebasan.
Terakhir, saya beri kamu pola pikir yang bisa dibawa dalam jangka panjang: alih-alih mengejar pilihan yang selalu benar setiap saat, lebih baik memupuk keyakinan bahwa "bahkan jika aku salah pilih, aku punya kemampuan untuk memperbaikinya". Keyakinan ini berasal dari pengalaman tindakan nyata dari waktu ke waktu, bukan hasil dari dibayangkan saja. Semakin kamu berani membuat keputusan dan semakin sering kamu menghadapi hasilnya, keyakinan ini akan semakin kokoh, dan keraguan di masa depan pun akan ikut menyusut. Ketegasan tidak pernah menjadi kepribadian bawaan, melainkan kemampuan yang tumbuh secara perlahan dari seseorang yang bersedia bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Mulailah dari satu keputusan kecil hari ini, berikan dirimu satu kesempatan untuk bersikap tegas.
Nilai dari banyak keputusan muncul setelah kamu mulai mengambil tindakan. Daripada berputar-putar melakukan simulasi berulang kali di tempat, lebih baik buat pilihan yang cukup baik terlebih dahulu, perbaiki sambil berjalan. Tindakan itu sendiri sering kali akan membawakan jawaban yang tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya.
Pertanyaan Umum FAQ
Apakah keraguan dalam memilih adalah sebuah penyakit? Perlu ke dokterkah?
"Kebingungan dalam memilih" yang sering dikatakan dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan adalah bentuk keragu-raguan yang sudah menjadi kebiasaan, bukan penyakit medis. Masalah ini biasanya akan menunjukkan perbaikan yang jelas melalui latihan metode pengambilan keputusan. Namun, jika keraguanmu sudah berdampak serius pada pekerjaan, hubungan sosial, atau membuatmu merasa menderita dan cemas dalam jangka panjang hingga sulit menjalani kehidupan normal, disarankan untuk mencari bantuan konseling psikologis profesional agar dievaluasi oleh tenaga ahli.
Kenapa aku sulit mengambil keputusan untuk hal-hal kecil, tetapi lebih tegas untuk hal-hal besar?
Hal ini sebenarnya sangat umum. Perkara besar biasanya memiliki target dan standar yang jelas, justru lebih mudah difokuskan; perkara kecil karena "dipilih bagaimanapun rasanya sama saja", kekurangan kriteria penilaian yang jelas, membuat otak menjadi mandek. Ditambah lagi perkara kecil terjadi berkali-kali setiap hari, sehingga lebih mudah menguras daya pengambilan keputusanmu. Cobalah untuk menetapkan aturan atau batasan waktu untuk urusan sepele sehari-hari guna menurunkan jenis konsumsi energi ini sampai ke tingkat minimum.
Bagaimana membedakan diri sendiri apakah berhati-hati atau ragu-ragu?
Kuncinya terletak pada apakah informasi dan waktu tersebut memberikan bantuan nyata. Kehati-hatian adalah mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rentang yang wajar dan akan mengambil keputusan pada tingkat tertentu; sedangkan keragu-raguan adalah ketika informasi sebenarnya sudah cukup tetapi masih berputar-putar di tempat yang sama, semakin dicari semakin cemas, dan enggan menyelesaikan. Jika kamu menyadari bahwa waktu tambahan yang dihabiskan tidak membuat jawabannya semakin jelas, maka sebagian besar hal itu sudah melewati batas kehati-hatian dan masuk ke dalam overthinking.
Apa yang harus dilakukan jika terus merasa menyesal setelah mengambil keputusan?
Ingatkan dirimu terlebih dahulu bahwa penyesalan sering kali berasal dari "informasi yang baru diketahui setelah kejadian", tetapi kamu membuat keputusan saat itu dengan kondisi yang terbatas, sehingga itu tidak dianggap sebagai kesalahan. Selanjutnya, alihkan perhatian dari "apakah aku salah memilih" ke "apa yang bisa kulakukan sekarang agar pilihan ini menjadi lebih baik". Sebagian besar keputusan memiliki ruang untuk disesuaikan, dan mencurahkan tenaga untuk melangkah maju akan lebih membantu daripada memutar ulang pilihan saat itu secara berulang-ulang.
Apakah ada metode cepat untuk melatih ketegasan?
Bisa dimulai dari "keputusan kecil dengan batas waktu 10 detik": mau makan apa, pakai baju apa, nonton film apa, beri diri sendiri waktu 10 detik untuk memutuskan, dan sengaja kumpulkan pengalaman "aku membuat keputusan dan semuanya baik-baik saja". Saat pilihan banyak, saring dulu hingga tersisa dua baru pilih, lalu tentukan tenggat waktu untuk memaksa diri menyelesaikannya. Latihan berisiko rendah seperti ini jika dilakukan terus-menerus, ketegasan akan perlahan menjadi reaksi kebiasaannya dirimu.