Regulasi emosi: saat emosi datang, cara agar tidak dikendalikannya
Pernahkah kamu mengalami saat-saat seperti ini: jelas-jelas hanya sebuah pesan dengan nada bicara yang agak ketus, tetapi kamu marah sepanjang sore; atau ditegur beberapa patah kata oleh atasan, saat itu tidak bereaksi apa-apa, tetapi setibanya di rumah malah melampiaskan amarah kepada orang yang paling dekat. Emosi bukannya tidak boleh ada, masalahnya adalah ketika emosi itu datang, kamu sering kali seperti dihantam oleh ombak besar, dan baru sadar telah mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan serta melakukan hal-hal yang disesali setelah tersadar kembali. Regulasi emosi bukanlah menyuruhmu menahan emosi atau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, melainkan belajar menemukan tempat berpijak yang kokoh saat ombak menghantam. Artikel ini akan mengajakmu melihat dengan jelas apa sebenarnya regulasi emosi itu, mengapa menekan dan meruminasi justru membuatmu semakin lelah, lalu menggunakan serangkaian model proses yang dirangkum oleh para psikolog untuk memecah "mengelola emosi" yang abstrak menjadi beberapa tindakan yang bisa kamu latih mulai hari ini.
Pengaturan emosi bukanlah menekan emosi, melainkan hidup berdampingan dengannya
Banyak orang langsung bereaksi "aku harus lebih tenang, jangan terlalu emosional" begitu mendengar kata "mengatur emosi". Namun, pemahaman ini sering kali justru membawa efek sebaliknya. Emosi itu sendiri adalah sebuah pesan: kecemasan mengingatkanmu bahwa suatu hal sangat penting, kemarahan memberitahumu bahwa batasmu telah dilanggar, dan kesedihan mengatakan bahwa kamu telah kehilangan sesuatu yang kamu sayangi. Jika tujuanmu hanya mematikan semua sinyal ini, itu sama saja dengan menutupi lampu peringatan di dasbor mobil satu per satu menggunakan selotip, mobilnya tetap mengalami masalah, hanya saja kamu tidak bisa melihatnya lagi.
Regulasi emosi (emotion regulation) dalam psikologi mengacu pada bagaimana kamu memengaruhi emosi apa yang kamu miliki, kapan kamu memilikinya, serta bagaimana kamu mengalami dan mengekspresikannya. Poin utamanya ada pada kata "memengaruhi" - bukan memusnahkan, melainkan menyesuaikan intensitas, waktu, dan cara ekspresinya. Seseorang yang terkelola dengan baik bukanlah orang yang tidak pernah marah, melainkan orang yang saat marah masih bisa memilih apakah akan meledak di tempat atau menggunakan cara apa untuk menyelesaikan masalah ini.
Oleh karena itu pula, baik buruknya regulasi sebagian besar bukan dilihat dari besar kecilnya emosimu, melainkan status antara dirimu dan hubungan tersebut setelah emosi berlalu. Sama-sama dibuat marah, ada orang yang setelahnya memperbaiki hubungan dan membicarakan masalahnya secara terbuka; ada pula yang perang dingin selama tiga hari sambil terus merenung di dalam hati. Emosi pihak pertama belum tentu lebih kecil, hanya saja dia menyisakan sedikit ruang di antara emosi dan reaksinya.
Salah paham umum lainnya adalah menyamakan "stabilitas emosional" dengan tidak adanya fluktuasi. Orang yang benar-benar stabil sering kali bukanlah orang yang emosinya datar bagaikan sebuah garis lurus, melainkan orang yang emosinya bisa naik dan bisa turun, tetapi ia tahu bahwa fluktuasi ini akan berlalu dan ia juga tahu bahwa ia memiliki cara untuk mendampingi dirinya sendiri melewatinya. Dengan kata lain, kemampuan regulasi tidak memberimu hati yang tenang selamanya, melainkan sebuah keyakinan dasar: sekalipun terpukul oleh ombak, kamu percaya dirimu mampu bertahan dan bangkit kembali. Keyakinan dasar inilah hal yang layak untuk dilatih.
Tiga pola umum yang membuatmu semakin stres saat mengaturnya
Sebelum mempelajari metode baru, mengenali jenis "pola disfungsi" apa yang biasa kamu gunakan akan sangat membantu, karena metode-metode ini efektif dalam jangka pendek tetapi sering kali menjatuhkan orang dalam jangka panjang, dan kita sering menggunakannya tanpa sadar.
Jenis yang pertama adalah represi: menelan emosi bulat-bulat ke dalam perut, sementara permukaan tampak tenang dan damai. Pengamatan penelitian menunjukkan bahwa orang yang menekan emosi dalam jangka panjang, meskipun penampilannya tampak tenang di luar, namun gairah fisiologis internal mereka (seperti detak jantung dan tekanan darah) justru bisa lebih tinggi, dan karena tidak mengekspresikannya, orang lain juga sulit mendekati sehingga hubungan menjadi semakin renggang. Jenis yang kedua adalah ruminasi: peristiwa telah berlalu, namun kepala justru seperti piringan hitam yang berputar macet, memutar ulang "mengapa dia berbicara seperti itu saat itu" dan "apa yang seharusnya kubalas kepadanya" berulang-ulang. Ruminasi akan memperpanjang waktu kesedihan dan kecemasan secara buatan, kamu mengira dirimu sedang mencari solusi, padahal kamu hanya sedang memperdalam jalur saraf tersebut. Jenis yang ketiga adalah pelepasan impulsif: emosi langsung disemprotkan keluar begitu datang, membanting pintu, memarahi dengan keras, mengetik pesan sekaligus lalu menekan tombol kirim. Terasa sangat lega saat itu juga, tetapi sering kali harus membayar harga untuk membereskannya setelah kejadian.
- Penekanan: Permukaan tenang, bagian dalam tegang, jika dibiarkan lama mudah terakumulasi menjadi ketidaknyamanan fisik dan kerenggangan hubungan.
- Ruminasi: Memutar ulang hal yang sama secara terus-menerus, memperpanjang emosi sesaat menjadi kemerosotan jangka panjang.
- Pelampiasan impulsif: Melampiaskan saat itu juga, menyesal setelahnya, merusak hubungan sekaligus merusak rasa percaya diri.
- Pemberontakan: Menggunakan gulir ponsel, makan berlebihan, lembur untuk menutupi emosi, masalah tidak terselesaikan melainkan ditunda.
Proses regulasi emosi Gross: empat gerbang yang bisa dikendalikan
"Model proses" yang diajukan oleh psikolog Universitas Stanford, James Gross, membagi emosi dari kemunculan hingga ekspresinya menjadi serangkaian tahapan, yang membuat kita melihat dengan jelas: ternyata sebelum sebuah emosi membesar dan meledak, ada banyak titik di mana kita bisa melakukan intervensi. Kamu tidak perlu setiap kali menunggu emosi meluap baru menahannya dengan paksa, karena itu adalah saat yang paling sulit dan paling menguras tenaga.
Gerbang pertama adalah pemilihan situasi. Kamu bisa secara proaktif mendekati atau menghindari situasi tertentu yang mudah memicu emosi tertentu. Mengetahui bahwa setiap kali ada jamuan keluarga akan dikritik oleh seorang sesepuh, kamu bisa memilih untuk mempersingkat waktu tinggal atau membuat janji dengan teman untuk makan bersama setelah kumpul keluarga demi mengalihkan suasana hati. Ini bukan bentuk penghindaran, melainkan mengakui bahwa energi yang kamu miliki saat ini terbatas, dan mengatur diri terlebih dahulu.
Cara kedua adalah modifikasi situasi. Meskipun sudah berada di dalamnya, kamu tetap bisa mengubah lingkungan itu sendiri. Dialog dalam rapat semakin memanas, kamu bisa mengusulkan "kita istirahat sepuluh menit dulu"; bertengkar dengan pasangan hingga tak terkendali, kita bisa bilang "kita ubah dengan menuliskan pikiran masing-masing lewat pesan". Mengganti format sering kali berarti mengganti sebagian bahan bakar emosi.
Ketiga adalah pengalihan perhatian. Kamu tidak dapat mengubah situasi, tetapi kamu dapat mengubah ke mana kamu melihat. Saat menunggu hasil pemeriksaan penting, daripada menatap jam sambil menghitung detik, lebih baik membiarkan diri terlibat dalam urusan kecil yang membutuhkan fokus. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengalihan dan penghindaran hanya berjarak seline tipis—pengalihan singkat agar kamu bisa bernapas lega itu baik, tetapi jika jangka panjang mengandalkan itu untuk menghindari semua ketidaknyamanan, masalah itu akan tetap kembali mencarimu.
Gerbang paling krusial: peninjauan ulang kognitif
Gerbang keempat dalam Model Gross, yaitu "penilaian ulang kognitif", adalah trik yang paling disukai dalam penelitian. Artinya: hal yang sama, jika ditafsirkan dari sudut pandang berbeda, emosi yang ditimbulkan akan berbeda. Emosi tidak ditentukan secara langsung oleh kejadian, melainkan ditentukan oleh bagaimana kamu menjelaskan kejadian tersebut.
Mari ambil sebuah contoh. Rekan kerjamu melihatmu namun tidak membalas sapaanmu, jika pikiran pertamanya adalah "apakah dia membenciku?", kecemasan dan rasa sakit akan langsung menyeruak; namun jika kamu bersedia berhenti sejenak dan berpikir "dia mungkin sedang terburu-buru rapat dan sama sekali tidak melihatku", suhu emosional tersebut langsung turun. Penilaian ulang kognitif bukanlah menyuruhmu membohongi diri sendiri untuk berpikir positif, melainkan mengingatkan dirimu: versi di dalam kepalaku yang paling menusuk saat ini belum tentu merupakan satu-satunya versi, dan belum tentu benar.
Hal ini membentuk kontras yang menarik dengan gerbang terakhir, yaitu "regulasi respons". Regulasi respons terjadi ketika emosi sudah terlanjur naik, baru kamu menekan keras di bagian pintu keluar—tarik napas dalam-dalam, menahan diri untuk tidak membanting barang, dan merapikan ekspresi di wajah. Cara ini memang berguna, tetapi biayanya tinggi dan lebih sulit untuk bertahan lama. Penilaian ulang (reappraisal) justru melakukan intervensi sebelum emosi tersebut tumbuh besar, yang sama artinya dengan mengatur debit air dari sumbernya, sehingga tentu saja jauh lebih santai. Memahami perbedaan ini akan membuatmu mengerti: daripada setiap kali mengandalkan kekuatan kehendak untuk menginjak rem di detik-detik terakhir, lebih baik memajukan latihan tersebut ke depan.
Penilaian Ulang Kognitif (Menyesuaikan dari Sumbernya)
- Sebelum emosi meninggi, ubahlah sudut pandang interpretasimu terlebih dahulu
- Hemat Tenaga, Efeknya Biasanya Lebih Tahan Lama
- Penampilan luar dan bagian dalam relatif konsisten, tidak menimbulkan luka batin
- Perlu latihan kesadaran, tetapi semakin dilatih semakin terasa alami
Pengaturan Reaksi (Menekan Keras di Bagian Keluar)
- Emosi sudah penuh, barulah menahan diri sebelum mengungkapkannya
- Menguras Kekuatan Kehendak, Sulit Bertahan Lama
- Cenderung Berbeda Antara Ucapan dan Perbuatan, Bagian Dalam Masih Terasa Tegang
- Terkadang butuh pertolongannya untuk darurat, tapi jangan jadikan andalan utama
Menamai emosi: emosi yang terlihat akan mengecil dengan sendirinya
Di antara semua latihan sehari-hari, hal yang paling diremehkan dan paling mudah dikuasai adalah "memberi nama" pada emosi. Ketika Anda dapat secara akurat mengatakan "aku sekarang sedang cemas, bercampur dengan sedikit rasa sedih karena diabaikan", alih-alih mengatakan secara samar "aku sedang sangat kesal", tindakan ini sendiri akan membantu mendinginkan emosi. Dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai "pelabelan emosi", dan studi pemindaian otak mengamati bahwa ketika seseorang memberi label pada perasaan mereka dengan kata-kata, aktivitas area di dalam otak yang berkaitan dengan pencetus emosi akan Descendant.
Mengapa cara ini sangat efektif? Karena pemberian nama membuat Anda beralih dari "seseorang yang tenggelam dalam emosi" menjadi "seseorang yang sedang mengamati emosi". Semula Anda dan emosi menyatu erat, namun pemberian nama menciptakan sedikit jarak di antara Anda dan emosi tersebut. Anda dapat mulai dari memperluas kosakata emosi Anda: banyak orang hanya memiliki dua kata yaitu "kesal" dan "marah" setiap kali mereka marah, tetapi di balik kemarahan tersebut mungkin tersembunyi kekecewaan, rasa takut, perasaan tidak dihargai, atau rasa tidak berdaya. Semakin detail kosakatanya, semakin Anda tahu apa yang sebenarnya Anda pedulikan.
Jika kamu tidak begitu yakin dengan mode apa yang biasa kamu gunakan saat menghadapi tekanan dan dalam situasi seperti apa kamu sangat mudah mengalami ketidakseimbangan, kamu bisa mencoba tes tekanan kami, perhatikan terlebih dahulu kecenderungan dirimu, lalu pilih latihan secara spesifik. Memahami titik awal diri sendiri sering kali jauh lebih menghemat tenaga daripada menerapkan teknik secara membabi buta.
Luangkan waktu satu menit setiap hari sebelum tidur, tuliskan satu emosi yang paling kamu rasakan hari ini dalam satu kalimat, dan cobalah tambahkan "karena...". Contohnya seperti "aku merasa sangat kesal hari ini, karena pekerjaan ditambahkan secara mendadak, merasa diriku dianggap sebagai orang yang bisa digunakan kapan saja." Jika ditulis dalam waktu lama, kamu akan lebih cepat mengenali emosi.
Menjadikan pengaturan emosi sebagai rutinitas: beberapa tindakan yang bisa dimulai hari ini
Pengaturan emosi adalah sebuah kemampuan, dan kemampuan perlu dikumpulkan secara perlahan saat situasinya tidak terlalu mendesak, alih-alih meminta pertolongan darurat saat berada di pusat badai. Beberapa tindakan di bawah ini memiliki ambang batas yang sangat rendah, dan poin utamanya adalah melakukannya berulang-ulang, menjadikannya reaksi otomatis saat kamu menghadapi suatu masalah.
Pertama, bangun sinyal "jeda" milikmu. Saat emosi mulai naik, berikan dirimu satu gerakan tetap—minum air, berjalan ke dekat jendela, menarik napas dalam-dalam tiga kali—biarkan tubuh melambat terlebih dahulu, dan dapatkan waktu penyangga selama beberapa detik. Detik-detik inilah yang sering kali menjadi garis pemisah antara impuls dan pilihan. Kedua, berlatihlah menuliskan "kejadian" dan "interpretasi" secara terpisah. Ambil selembar kertas, tuliskan apa yang terjadi di sebelah kiri (hanya menuliskan fakta), dan tuliskan pikiranmu di sebelah kanan. Kamu akan menyadari bahwa banyak rasa sakit berasal dari interpretasi, bukan dari kejadian itu sendiri, dan inilah latihan pengantar penilaian ulang kognitif.
Ketiga, rawatlah fondasi tubuh ini dengan baik. Ketika kurang tidur, kelaparan, dan mengalami kelelahan jangka panjang, ambang batas emosi seseorang akan jelas Descendant, di mana masalah sepele sekali pun akan diperbesar. Mengurus waktu tidur, makan, dan olahraga dengan baik, dengan sendirinya merupakan bentuk pengaturan emosi yang paling sering diabaikan. Terakhir dan yang paling penting: bersikaplah lebih longgar pada diri sendiri. Tidak seorang pun yang selalu bisa mengatur emosi dengan baik setiap saat, merasa lepas kendali atau menyesal adalah hal yang sangat wajar. Hal yang benar-benar membuatmu maju bukanlah menyalahkan diri sendiri dengan "mengapa bisa begitu lagi", melainkan bersedia menengok kembali ke belakang sesudahnya untuk melihat "di pintu gerbang mana aku bisa melakukan intervensi lebih awal pada kesempatan berikutnya". Dengan memperbanyak latihan, ruang kebebasan yang disisipkan untuk pilihan tersebut akan semakin membesar sedikit demi sedikit.
Pertanyaan Umum FAQ
Apa bedanya pengaturan emosi dan menekan emosi?
Menekan emosi berarti mendesak emosi ke bawah dan berpura-pura baik-baik saja. Emosi tersebut sebenarnya masih ada, hanya saja disembunyikan. Dalam jangka panjang, tubuh dan hubungan bisa terkena dampaknya. Regulasi emosi adalah mengakui keberadaan emosi, lalu menyesuaikan intensitas, waktu, dan cara ekspresinya. Contohnya adalah melihat dari sudut pandang lain atau memilih waktu yang tepat untuk menghadapinya. Yang pertama adalah mematikan sinyal, sedangkan yang kedua adalah belajar hidup berdampingan dengan sinyal tersebut.
Aku sangat mudah merenung dan memikirkan hal yang sama terus-menerus, apa yang harus dilakukan?
Overthinking biasanya menyamar menjadi "aku sedang menyelesaikan masalah", tetapi sebenarnya kebanyakan hanya sekadar memutar ulang. Kamu bisa mulai dengan menetapkan batasan untuknya, contohnya beri diri sendiri waktu sepuluh menit khusus untuk berpikir, begitu waktunya habis, bangun dan lakukan sesuatu yang membutuhkan fokus untuk mengalihkan perhatian. Kamu juga bisa menuliskan pikiran yang terus berulang tersebut, memindahkannya dari dalam otak ke atas kertas, biasanya pikiran itu tidak akan terlalu melekat lagi. Jika overthinking sudah berdampak serius pada tidur dan kehidupanmu, disarankan untuk mencari bantuan profesional.
Apakah peninjauan kembali kognitif berarti memaksa diri untuk berpikir positif?
Bukan. Memaksa diri berpikir positif sering kali berubah menjadi menipu diri sendiri, yang justru membuat orang semakin lelah. Inti dari penilaian ulang kognitif adalah mengingatkan diri sendiri: interpretasi yang paling menusuk dalam pikiran saya belum tentu merupakan satu-satunya atau yang benar. Tujuannya adalah mencari versi lain yang sama masuk akalnya tetapi lebih dekat dengan fakta, dan bukannya memaksakan hal buruk menjadi hal baik. Poin utamanya adalah menambah sudut pandang, alih-alih menyangkal perasaan yang sebenarnya.
Mengapa memberi nama pada emosi dapat membuat emosi tersebut mereda?
Ketika kamu menggunakan kata-kata untuk merumuskan perasaan secara akurat, itu setara dengan beralih dari "seseorang yang tenggelam dalam emosi" menjadi "seseorang yang mengamati emosi", sehingga menciptakan jarak antara dirimu dan emosi tersebut. Studi pemindaian otak juga mengamati bahwa ketika seseorang memberi label pada perasaan mereka menggunakan kata-kata, aktivitas area otak yang terkait dengan gairah emosional cenderung akan Descendant. Kamu bisa memulainya dengan memperluas kosakata emosional, menguraikan kata "kesal" yang samar menjadi kekecewaan, ketakutan, atau rasa bersalah, agar kamu lebih memahami apa yang sebenarnya kamu pedulikan.
Apakah kemampuan pengaturan emosi bisa dilatih? Berapa lama latihannya?
Bisa. Pengaturan emosi adalah sebuah kemampuan bukan kepribadian bawaan, dengan latihan berulang ada peluang untuk perlahan meningkatkannya. Disarankan untuk mulai dari tindakan berstandar rendah, misalnya membangun sinyal jeda, menuliskan peristiwa dan interpretasi secara terpisah, atau memberi nama pada emosi sekali sehari. Sebagian besar membutuhkan waktu beberapa minggu secara terus terang untuk merasakan perbedaannya, di dalam prosesnya lepas kendali atau menyesal adalah hal yang normal, kuncinya adalah kesediaan untuk meninjau kembali setelah kejadian, dan melakukan intervensi lebih awal di kesempatan berikutnya.