Apa itu Festival Chongyang? Asal-usul, tradisi, pantangan, dan cara merayakannya kini
Festival Chongyang jatuh pada hari kesembilan bulan kesembilan kalender lunar, dinamakan "Chongyang" karena dalam "I Ching" angka sembilan dianggap sebagai angka yang melambangkan unsur yang terang, dan kedua angka sembilan saling bertumpuk. Di Taiwan, hari ini sekaligus merupakan Hari Penghormatan Lansia yang ditetapkan oleh hukum, tetapi kesan sebagian besar orang terhadapnya mungkin hanya berhenti pada "harus menemani sesepuh". Artikel ini merangkum dengan jelas asal-usulnya, adat istiadat tradisional, serta cara modern, sekaligus menjelaskan pantangan mana yang benar dan mana yang sekadar mitos yang beredar.
Asal-usul Festival Chongyang
Nama Chongyang berasal dari angka. Kitab Perubahan (I Ching) menetapkan angka sembilan sebagai bilangan yang melambangkan unsur yang kuat, tanggal sembilan bulan sembilan kalender lunar adalah bulan dan hari yang sama-sama bernomor sembilan, kedua unsur kuat bertumpuk, oleh karena itu disebut Chongyang atau Chongjiu.
Kisah yang paling sering dikutip bersumber dari buku *Xu Qixie Ji* dinasti Nan: Huan Jing dari Dinasti Han Timur berguru ilmu kesaktian kepada Fei Changfang. Fei Changfang memberitahunya bahwa pada tanggal sembilan bulan sembilan akan ada malapetaka di rumahnya, dan memintanya menyuruh setiap anggota keluarga mengenakan kantong berisi *cornel* (Zhuyu) serta mendaki tempat tinggi sambil meminum anggur seruni untuk menghindari bencana. Huan Jing menuruti perkataan tersebut, dan sekembalinya ke rumah ia mendapati seluruh ternak piaraannya mati sementara keluarganya selamat. Kisah inilah yang dianggap sebagai asal-usul tradisi mendaki tempat tinggi dan menyelipkan tanaman Zhuyu.
Yang perlu dijelaskan, ini adalah catatan dalam sebuah novel cerita hantu, bukan sejarah faktual. Namun hal itu memang mencerminkan sifat awal dari Festival Chongyang——menghindari bencana dan memohon keberkahan, alih-alih merayakan.
Apa saja tradisi kuno
Mendaki tempat tinggi adalah kebiasaan yang paling inti. Selain makna menghindari bencana di dalam cerita, bulan kesembilan kalender lunar memiliki cuaca yang sejuk dan cerah, dan aktivitas mendaki itu sendiri juga selaras dengan musim. Di banyak tempat modern, kegiatan mendaki Chongyang masih dipertahankan.
Menyelipkan buah cornelian cherry dan meminum anggur krisan sama-sama berasal dari legenda tersebut. Buah cornelian cherry memiliki aroma tajam, orang zaman dahulu menganggapnya sebagai benda penangkal bala; sedangkan krisan dianggap sebagai bunga panjang umur karena mekar pada bulan kesembilan. Bait puisi Wang Wei "menyelipkan cornelian cherry tetapi kurang satu orang" menuliskan kebiasaan ini.
Makan kue Chongyang adalah tradisi lainnya. Kata "kue" (Gao) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata "tinggi" (Gao), yang mengandung makna mendaki tempat tinggi, sehingga orang yang tidak bisa mendaki gunung pun tetap bisa merayakannya. Kue Chongyang di Taiwan tidak seumum di Tiongkok Utara, namun masih ada di beberapa daerah.
Menyembelih kurban untuk leluhur juga merupakan bagian yang penting. Beberapa daerah di Taiwan memiliki kebiasaan membersihkan makam pada Festival Chongyang, terutama perkampungan Hakka dan beberapa keluarga di selatan, akan memilih Festival Chongyang alih-alih Qingming untuk memuja leluhur.
Mengapa Berubah Menjadi Hari Lansia
"Jiujiu" dan "jiujiu" (selamanya) memiliki pelafalan yang mirip, sehingga diartikan sebagai makna umur panjang dan selamanya. Hubungan inilah yang membuat Festival Chongyang secara bertahap dikaitkan dengan penghormatan kepada lansia.
Taiwan menetapkan Festival Chongyang pada tahun 1966 sebagai "Hari Menghormati Lansia", dan sebagian besar pemerintah daerah serta kantor distrik mengadakan kegiatan menghormati lansia pada hari ini, serta membagikan uang atau hadiah penghormatan lansia. Oleh karena itu, di Taiwan, penampilan aktual Festival Chongyang lebih mirip dengan Hari Menghormati Lansia, dan nuansa tradisional menghindari malapetaka sudah sangat memudar.
Tiongkok daratan memasukkan Festival Chongyang ke dalam "Undang-Undang Jaminan Hak dan Kepentingan Lansia" pada tahun 2013, dan juga menetapkannya sebagai Hari Lansia.
Tabu Tradisional dan Cara Menyikapinya
Ada beberapa pantangan yang diturunkan: Pantang mengucapkan kata-kata tidak baik, pantang berhubungan intim, dan beberapa pandangan menganggap bahwa hari itu tidak cocok untuk bepergian jauh atau pindah rumah. Hal-hal ini sebagian besar berasal dari sifat awal Chongyang untuk menghindari bencana.
Pendapat umum lainnya adalah pada hari Chongyang tidak tepat untuk mengucapkan "selamat", melainkan harus mengucapkan "sejahtera". Pendapat ini menyebar sangat luas di internet dalam beberapa tahun terakhir, dengan alasan bahwa hari Chongyang mengandung makna menghindari bencana dan memuja leluhur. Kenyataannya ini tergolong pandangan yang baru muncul belakangan ini, secara tradisional tidak ada aturan seperti ini——perbedaan adat istiadat di berbagai tempat juga besar, tidak perlu ambil pusing karenanya.
Sikap yang lebih realistis adalah: Tabu-tabu ini termasuk dalam cerita rakyat, tidak memiliki dasar ilmiah, dan tidak perlu dianggap sebagai aturan. Yang benar-benar penting adalah inti dari hal tersebut——mencari waktu untuk menemani para tetua.
Bagaimana keluarga modern menjalaninya
Praktik yang paling umum adalah pulang untuk makan bersama atau mengajak anggota keluarga senior keluar. Tidak perlu sengaja mendaki tempat tinggi, berjalan-jalan, ke taman, makan bersama semuanya sesuai dengan esensi hari libur.
Jika di rumah ada kebiasaan bersembahyang kepada leluhur, kamu bisa menyiapkannya sesuai dengan tradisi keluarga. Jika ingin melakukan persembahyangan, persembahan biasanya berupa tiga jenis hewan korban (sansheng) atau buah vegetarian dan bunga segar, waktunya sebagian besar di pagi hari, praktik aktual di setiap keluarga berbeda-beda, mengonfirmasikannya dengan anggota keluarga yang lebih tua adalah cara yang paling akurat.
Saran praktis lainnya: Festival Chongyang adalah waktu untuk mengingatkanmu agar peduli pada kesehatan para tetua. Menemani orang tua melakukan pemeriksaan kesehatan sekali, merapikan daftar obat-obatan mereka, dan memeriksa fasilitas anti-selip di rumah jauh lebih berguna daripada adat istiadat apa pun.
Lanjutan: Halaman Kombinasi Lengkap di Situs
Pertanyaan Umum FAQ
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined