Bagaimana mengetahui MBTI seseorang? Cara menduga tipe kepribadian dari perilaku sehari-hari
Tidak lama setelah berkenalan dengan teman baru, banyak orang dalam hatinya mulai menebak-nebak: Apakah orang ini ekstrovert atau introvert? Sangat terencana dalam bertindak atau santai? Ingin melihat MBTI seseorang dari interaksi sehari-hari sebenarnya ada jejak yang bisa diikuti, namun sangat mudah juga terjebak, menyalahartikan "penampilan saat itu" sebagai "kepribadian yang stabil". Artikel ini tidak bertujuan mengajari orang lain memberi label, melainkan mengajakmu mengenali petunjuk perilaku dari keempat dimensi, pemandangan apa yang harus diamati, mana saja misdiagnosis yang paling umum, serta sebuah kesimpulan yang jujur: pengamatan eksternal selamanya hanya bisa mendapatkan dugaan kecenderungan, untuk benar-benar memastikan, tetap harus mengandalkan diri sendiri yang menjalani tes secara langsung.
Klarifikasi dulu: yang bisa diamati adalah kecenderungan, bukan kesimpulan mutlak
Sebelum mengajarimu cara melihatnya, kamu harus membenarkan pola pikirmu terlebih dahulu. MBTI menggambarkan preferensi seseorang tentang "bagaimana terbiasa mendapatkan energi, bagaimana memproses informasi, bagaimana membuat keputusan, dan bagaimana mengatur kehidupan", itu adalah kecenderungan batin, sementara yang bisa kamu amati hanyalah perilaku luar. Perilaku akan dipengaruhi oleh situasi, peran, emosi, dan kondisi hari itu, jadi yang terlihat dari luar paling-paling adalah "orang ini pada saat ini tampil lebih mirip tipe tertentu".
Sebagai contoh, seseorang yang pada dasarnya cenderung introvert, mungkin akan berbicara panjang lebar pada topik yang ia kenal dan cintai, terlihat sangat ekstrovert; tetapi setelah pesta berakhir, ia butuh waktu sendirian selama beberapa jam untuk memulihkan energi, dan inilah kebenaran dari sumber energinya. Hanya melihat paruh pertama lalu menilai dia adalah tipe ekstrovert, akan berakibat salah nilai. Jadi setiap petunjuk yang akan dibahas selanjutnya, mohon anggap sebagai "hipotesis" alih-alih "jawaban", lihatlah beberapa situasi lagi sebelum melakukan perbandingan silang.
Selain itu, pola pikir yang harus dihindari adalah "menembak dulu baru membuat sasaran". Begitu seseorang menyimpulkan bahwa pihak lain adalah tipe tertentu, setelahnya mereka hanya akan memperhatikan bukti yang cocok dan mengabaikan bagian yang tidak cocok. Semakin dilihat semakin terasa akurat, padahal sebenarnya mereka sedang meyakinkan diri sendiri. Jika benar-benar ingin membantu seseorang memahami dirinya sendiri, cara terbaik adalah mendorongnya untuk melakukan tes MBTI, alih-alih memutuskan untuknya.
Serta ada satu pengingat yang sangat praktis: semakin dekat hubungannya, pengamatan justru belum tentu semakin akurat. Penampilan orang yang akrab denganmu saat bersantai di hadapanmu, bisa jadi sangat berbeda dengan penampilannya di tempat kerja, di hadapan orang asing, dan kamu hanya bisa melihat salah satu sisinya saja. Orang tua sering melihat anak sebagai tipe tertentu, padahal sebenarnya hanya melihat peran anak di dalam lingkungan rumah; dirimu di mata rekan kerja, hanyalah dirimu dalam mode bekerja. Jadi saat mengamati, ingatkan dirimu bahwa apa yang berada di tanganmu selamanya hanyalah "sebagian sampel", bukan gambaran keseluruhan.
E dan I: mengamati dari mana energi berasal
Inti dari Ekstrover E dan Introver I bukanlah "suka atau tidak suka ngobrol", melainkan "dari mana energi diisi ulang". Untuk melihat poin ini, fokuslah pada setelah interaksi, bukan pada saat interaksi berlangsung. Setelah sebuah pesta yang meriah berakhir, ada orang yang masih merasa kurang dan ingin melanjutkan acara serta merasa seluruh tubuhnya hidup kembali, ini cenderung ekstrovert; ada orang yang jelas-jelas bersenang-senang, tetapi setibanya di rumah justru hanya ingin mematikan lampu dan berbaring serta tidak ingin berbicara sepatah kata pun, ini cenderung introver.
Petunjuk kecil sehari-hari juga ada banyak. Orang yang cenderung ekstrovert sering kali "berpikir sambil berbicara", gagasan terbentuk di dalam percakapan, sehingga mereka berbicara lebih banyak, bereaksi cepat, dan menyukai diskusi langsung; orang yang cenderung introvert lebih condong "berpikir matang baru berbicara", membalas pesan mungkin sedikit lebih lambat tetapi menyampaikannya secara utuh sekaligus, dan sering kali menjadi orang yang berbicara paling akhir saat rapat, namun langsung tepat sasaran. Mengamati apakah mereka ingin mencari orang untuk berdiskusi bersama atau ingin menyendiri sejenak saat menangani kesulitan juga dapat membedakannya dengan sangat baik.
Kesalahan penilaian yang umum adalah menganggap "keterampilan sosial yang baik" sebagai ekstrovert. Beberapa introvert sebenarnya memiliki keterampilan sosial yang sangat kuat, dapat merespons dengan baik, dan berbicara dengan lancar, tetapi itu adalah keterampilan yang dilatih melalui pengalaman, dan energi yang dikonsumsi tetaplah energi mereka. Sebaliknya, ada juga ekstrovert yang pemalu dan tidak pandai berkata-kata. Jadi, untuk menilai E atau I, lihatlah ke mana arah aliran energi, jangan hanya melihat tingkat keaktifan di permukaan.
Satu lagi sudut pandang pengamatan yang berguna adalah "saluran keluar dari pemikiran". Orang yang cenderung ekstrovert sering kali harus mengutarakan gagasan mereka terlebih dahulu agar bisa berpikir dengan jernih, sehingga mereka akan mencari orang untuk berdiskusi, berbicara sendiri, sambil berbicara sambil menjernihkan pikiran; sementara orang yang cenderung introvert terbiasa merampungkan satu putaran pemikiran terlebih dahulu di dalam kepala sebelum mengeluarkannya, sehingga cenderung akan tersendat jika diminta berbicara secara spontan, namun isinya sering kali jauh lebih matang jika diberi waktu atau menggunakan tulisan. Memperhatikan apakah seseorang merapikan pemikirannya melalui "ekspresi eksternal" atau "pengendapan internal" jauh lebih akurat ketimbang sekadar melihat banyak atau sedikitnya kata-kata yang diucapkan.
S dan N: perhatian pengamatan diletakkan pada hal yang konkrit atau abstrak
Perbedaan antara sensing S dan intuisi N terletak pada apakah pengaturan default perhatian seseorang berhenti pada "fakta di depan mata" atau "kemungkinan di balik fakta tersebut". Mendengar seseorang mendeskripsikan suatu hal adalah cara paling mudah untuk melihatnya. Orang yang cenderung sensing memperhatikan detail, urutan, dan proses kejadian yang nyata, mereka akan berkata, "Hari itu pukul tiga sore, pertama-tama kami pergi ke mana, makan apa, dan apa yang dikatakan oleh pelayan toko"; sedangkan orang yang cenderung intuisi akan dengan cepat melompat ke makna dan asosiasi, mereka akan berkata, "Perjalanan itu membuatku mulai berpikir, untuk apa sebenarnya manusia membutuhkan perjalanan."
Skenario lainnya adalah saat menghadapi tugas baru. Orang dengan preferensi sensing cenderung bertanya "langkah spesifik apa saja yang harus dilakukan, apakah ada contoh yang bisa dijadikan referensi", serta menyukai metode yang praktis, dapat diterapkan, dan telah teruji; orang dengan preferensi intuisi cenderung bertanya "apa tujuan dari hal ini, apakah ada cara lain", mudah kehilangan kesabaran terhadap detail yang sifatnya repetitif, tetapi justru bersinar saat dibutuhkan koneksi kreatif. Saat membahas rencana masa depan, orang sensing membicarakan jadwal dan sumber daya yang konkret, sementara orang intuitif membicarakan visi dan berbagai kemungkinan.
Kelompok ini adalah yang paling mudah diamati di antara keempat dimensi, dan juga yang paling mampu membedakan gaya berpikir dua orang. Kesalahan penilaian yang harus diwaspadai adalah menyamakan "pintar" dengan intuisi, menyamakan "pragmatis" dengan sensing, semua itu adalah stereotip. Tipe sensing sangat kuat saat membutuhkan ingatan dan eksekusi yang akurat, sedangkan tipe intuitif sering kali mengabaikan detail di depan mata, keduanya memiliki kelebihan masing-masing, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
T dan F: mengamati apa yang dilihat terlebih dahulu saat mengambil keputusan
Memikirkan perbedaan antara berpikir T dan emosi F terletak pada pertimbangan pertama saat mengambil keputusan, apakah itu "logika objektif" atau "orang dan hubungan". Perhatikan, ini bukanlah masalah "punya perasaan atau tidak" atau "rasional atau tidak", melainkan masalah prioritas. Hal ini paling terlihat saat memberikan saran kepada teman: orang yang condong pada thinking cenderung menganalisis terlebih dahulu "apa kelebihan dan kekurangan dari tindakanmu, di mana letak masalahnya" dan langsung memberikan solusi; orang yang condong pada feeling cenderung menangkap emosi terlebih dahulu "kamu pasti sedih sekali ya", peduli pada hubungan dan perasaan, baru kemudian membahas apa yang harus dilakukan.
Reaksi saat terjadi konflik juga sangat indikatif. Orang yang condong ke arah berpikir lebih mampu memisahkan masalah dari orangnya dalam perdebatan, merasa bahwa "fokus pada masalah, bukan pada orangnya" adalah hal yang wajar, yang terkadang membuat mereka tampak langsung; sedangkan orang yang condong ke arah perasaan sangat sensitif terhadap suasana di tempat dan perasaan pihak lain, sehingga akan mengalah atau mengungkapkan secara tersirat demi menjaga keharmonisan, serta lebih mudah memikirkan kembali "apakah aku telah melukai seseorang" setelah konflik terjadi.
Kesalahan penilaian yang umum ada dua. Pertama adalah menganggap bahwa semua wanita adalah F dan pria adalah T; ini adalah kerangka budaya alih-alih fakta psikologis, di mana kedua kecenderungan tersebut sangat umum ditemukan pada berbagai jenis gender. Kedua adalah menganggap "emosi yang terekspresikan secara eksternal" sebagai F; padahal sebagian orang yang bertipe pemikir juga memiliki emosi yang sangat kuat, hanya saja cara mereka memproses emosi cenderung mengarah pada analisis. Untuk melihat T/F, kita harus melihat apakah standar "yang pertama kali dikeluarkan untuk dipertimbangkan" saat mengambil keputusan adalah logika ataukah perasaan manusia.
J dan P: Mengamati ritme hidup dan cara menangani daftar tugas
Judging (J) dan Perceiving (P) mencerminkan preferensi seseorang apakah "menetapkan segala hal" atau "menjaga agar tetap terbuka". Hal ini paling mudah dilihat dari kebiasaan hidup. Orang yang berorientasi judging menyukai rencana, daftar, dan jadwal yang pasti, serta akan memeriksa rute dan waktu setiap tempat wisata sebelum bepergian; mengubah jadwal secara mendadak akan membuat mereka cemas, melihat hal-hal yang belum ada kejelasannya akan membuat mereka merasa sangat tidak nyaman, dan mereka cenderung menyelesaikannya lebih awal demi ketenangan pikiran.
Mereka yang memiliki preferensi persepsi justru menikmati fleksibilitas, merasa bahwa rencana yang terlalu padat justru mengikat tangan dan kaki, serta senang bepergian tanpa rencana pasti, di mana tugas sering kali baru dimulai mendekati batas waktu tetapi sering kali juga dapat diselesaikan dengan berlari di bawah tekanan. Mengamati meja seseorang, kalender, ritme saat membalas pesan, dan reaksi terhadap 'ajakan mendadak' dapat memperlihatkan kecenderungan dari garis ini. Saat mengajaknya makan, mereka yang membalas dengan "baiklah kalau begitu kita buat janji jam sekian lewat sekian di mana" cenderung J, sedangkan yang membalas dengan "terserah nanti saja dibicarakan" cenderung P.
Kesalahan penilaian yang harus diperhatikan adalah langsung menyamakan "suka bersih, teratur" dengan J. Kerapian adalah kebiasaan atau tuntutan lingkungan, tidak sepenuhnya sama dengan kecenderungan penilaian internal; beberapa orang tipe persepsi memiliki meja yang berantakan, namun di dalam kepalanya memiliki sistem keteraturan sendiri. Sebaliknya, pelatihan di tempat kerja juga akan membuat orang tipe persepsi terlihat sangat terencana di permukaan. Jadi melihat J/P, kuncinya adalah kondisi "merasa nyaman" miliknya itu mengerucut atau terbuka, bukan apakah secara lahiriah memiliki keteraturan atau tidak.
Mengapa tes yang paling akurat tetaplah yang dikerjakan oleh diri sendiri?
Mengamati keempat dimensi tersebut secara keseluruhan paling-paling hanya memberimu "tipe hipotesis", tetapi ada beberapa keterbatasan bawaan di sini. Pertama, kamu tidak dapat melihat perasaan batin orang lain dan hanya dapat menyimpulkannya secara terbalik dari perilaku, padahal perilaku sangat terganggu oleh peran dan situasi. Kedua, perbedaan antar tipe yang berdampingan sangat tipis, seperti INFJ dan INFP, ISTJ dan ISFJ. Hampir tidak mungkin membedakannya hanya mengandalkan pengamatan luar; hal ini sering kali harus bergantung pada pengalaman langsung pihak yang bersangkutan mengenai dasar batin pada saat pengambilan keputusan baru bisa dibedakan.
Ketiga, manusia memiliki titik buta sekaligus pertumbuhan. Seseorang mungkin menekan sifat aslinya karena pekerjaan jangka panjang atau menampilkan sisi yang berlawanan dengan kecenderungan aslinya, hanya dirinya sendiri di bawah kesadaran diri yang jujur yang dapat menyentuh kebenarannya. Inilah mengapa bahkan pengamatan profesional pun hanya bisa memberikan referensi, tidak bisa memberikan kesimpulan akhir. Cara untuk benar-benar memastikan tipe kepribadian adalah dengan menjalani sendiri tes MBTI yang dirancang dengan baik, lalu mencocokkan hasilnya dengan diri sendiri.
Lebih jauh lagi, jika ingin memahami "mengapa menjadi tipe ini" dan bukan hanya "tipe yang mana", kamu dapat memperluas pemahaman tentang fungsi kognitif. Hal tersebut menjelaskan urutan operasional mental internal dari setiap tipe, lebih mampu menjelaskan kebiasaan berpikir seseorang daripada keempat huruf tersebut, serta dapat membantumu memahami mengapa dua orang yang sama-sama INTJ atau ENFP, terlihat tampak berbeda. Daripada menghabiskan tenaga menebak orang lain, lebih baik gunakan kemampuan pengamatan ini pada diri sendiri terlebih dahulu, hasilnya akan terasa jauh lebih nyata.
Pertanyaan Umum FAQ
Apakah MBTI seseorang bisa diketahui hanya dari beberapa kali mengobrol?
Sangat sulit dan mudah salah menilai. Beberapa kali interaksi hanya bisa melihat performa pihak lain dalam situasi dan peran tertentu, belum tentu sama dengan kecenderungan kepribadian yang stabil. Pendekatan yang lebih dapat diandalkan adalah mengamati lintas berbagai skenario, contohnya statusnya setelah menyendiri, apa yang dipertimbangkan terlebih dahulu saat membuat keputusan, reaksi saat menghadapi perubahan mendadak, lalu membandingkannya secara silang. Meskipun demikian, hal tersebut hanya bisa menghasilkan hipotesis, untuk memastikannya tetap membutuhkan yang bersangkutan untuk melakukan tes secara langsung.
Bagaimana cara membedakan apakah seseorang itu ekstrovert atau introvert?
Kuncinya bukan pada seberapa banyak atau sedikit berbicara, melainkan dari mana energi itu diisi ulang. Lihatlah status setelah interaksi berakhir: orang yang setelah berkumpul masih ingin melanjutkan acara dan merasa seluruh hidupnya bangkit kembali cenderung ekstrovert; sedangkan orang yang bersenang-senang tetapi setibanya di rumah hanya ingin menyendiri dengan tenang untuk memulihkan energi cenderung introvert. Hindari juga kesalahpahaman yang menganggap keterampilan sosial yang baik sebagai tanda ekstrovert. Banyak orang introvert memiliki kemampuan sosial yang kuat, tetapi itu adalah keterampilan yang dipelajari, dan hal itu tetap menguras energi mereka.
Apa saja kesalahan paling umum dalam menebak MBTI berdasarkan perilaku?
Terdapat beberapa hal yang umum dijumpai: menganggap keterampilan sosial yang baik sebagai ekstrovert, menyamakan kepintaran dengan intuisi, menyamakan sifat pragmatis dengan sensing, mengira semua perempuan adalah tipe perasaan dan laki-laki adalah tipe pemikiran, serta langsung menganggap menyukai kebersihan dan kerapian sebagai tipe judging. Sebagian besar hal ini merupakan stereotip atau kerangka budaya, alih-alih fakta psikologis. Jebakan besar lainnya adalah menetapkan tipe terlebih dahulu lalu hanya mencari bukti yang sesuai, semakin dilihat semakin terasa akurat, padahal sebenarnya itu adalah bentuk sugesti diri.
Mengapa tipe-tipe yang berdampingan sangat sulit dibedakan?
Karena tipe yang hanya berselisih satu huruf sering kali memiliki perilaku lahiriah yang sangat mirip, misalnya INFJ dengan INFP, atau ISTJ dengan ISFJ, perbedaannya terletak pada apa yang menjadi dasar pengambilan keputusan internal pada saat itu, yang mana hal ini tidak bisa dilihat oleh orang luar. Untuk membedakannya biasanya harus mengandalkan kesadaran diri yang bersangkutan terhadap perasaan internal saat membuat pilihan, atau mencocokkannya lebih lanjut dengan urutan kerja fungsi kognitif. Mengandalkan pengamatan eksternal saja sangat mudah membuat kita salah menebak.
Setelah bisa melihat tipe orang lain, bolehkah langsung memberitahukannya kepada mereka?
Disarankan untuk tidak langsung melabeli orang lain. Pengamatanmu hanyalah asumsi dan bisa jadi salah menilai, gegabah memberikan label justru berisiko membuat orang tersebut merasa terkotak-kotak. Pendekatan yang lebih baik adalah membagikan hasil pengamatanmu sebagai bahan obrolan, mendorongnya untuk melakukan tes MBTI sendiri, dan memverifikasinya secara langsung oleh yang bersangkutan agar paling akurat. Fokuslah pada membantu orang lain mengenal diri sendiri, bukan membuktikan bahwa keahlianmu membaca orang sangat tepat.
Kenapa dikatakan bahwa yang paling akurat tetaplah diri sendiri yang mengisi tes?
Karena observasi eksternal memiliki keterbatasan bawaan: tidak dapat melihat perasaan internal pihak lain, perilaku akan terganggu oleh peran dan situasi, tipe yang berdekatan sulit dibedakan, dan orang juga akan menekan sifat aslinya karena tekanan lingkungan. Semua ini membuat orang di luar hanya bisa mendapatkan tebakan tingkat referensi. Orang itu sendiri yang melakukan tes yang dirancang dengan baik di bawah kesadaran diri yang jujur, lalu mencocokkan hasil dengan fungsi kognitif secara mandiri, barulah menjadi yang paling mendekati kecenderungan kepribadian yang sebenarnya.