<<< Apa beda MBTI dan Big Five? Perbedaan dua tes kepribadian besar dan mana yang sebaiknya dipakai|MBT1 - Tes Kepribadian MBTI & Zodiak
Pengetahuan MBTI

Apa beda MBTI dan Big Five? Perbedaan dua tes kepribadian besar dan mana yang sebaiknya dipakai

Apa beda MBTI dan Big Five? Perbedaan dua tes kepribadian besar dan mana yang sebaiknya dipakai
Ringkasan

Sering ada orang yang bertanya: Karena kepribadian Big Five lebih diakui dalam dunia akademis, apakah itu berarti MBTI sudah tidak berguna? Pertanyaan ini sebenarnya salah mengarahkan fokus. MBTI dan kepribadian Big Five bukanlah dua peserta dalam perlombaan yang sama, karena sejak awal pertanyaan yang ingin dijawab oleh keduanya sudah berbeda. Yang satu ingin membantumu "mengenal diri sendiri dan mengomunikasikan perbedaan dengan orang lain", sedangkan yang satu lagi ingin "mengukur tingkat sifat kepribadian secara seakurat mungkin". Artikel ini tidak berniat untuk menjagokan salah satu dan merendahkan yang lain, melainkan menjelaskan sumber teoretis, hal-hal yang diukur, serta kekuatan dan keterbatasan masing-masing dari keduanya, dan pada akhirnya membantumu menilai situasi mana yang harus menggunakan yang mana.

Kedua tes tersebut sebenarnya menjawab pertanyaan yang berbeda

Pertama-tama mari bicarakan premis yang banyak orang tidak sadari: niat awal desain MBTI dan Kepribadian Big Five berbeda. Yang ingin dilakukan MBTI adalah "kategori", mengelompokkan orang ke dalam salah satu dari 16 tipe, agar mudah bagimu mengingat kecenderunganmu sendiri dan juga mudah menjelaskan kepada orang lain "aku kira-kira tipe seperti ini". Yang ingin dilakukan Kepribadian Big Five adalah "pengukuran", yang tidak terburu-buru menempelkanmu ke dalam kotak mana pun, melainkan mengukur secara terpisah apakah kamu condong tinggi atau rendah pada kelima sifat tersebut.

Diumpamakan, MBTI lebih mirip kerangka jenis "kamu tipe yang mana" seperti golongan darah atau zodiak, yang mengutamakan mudah diingat, mudah disamakan dengan diri sendiri, dan mudah beresonansi saat ngobrol; Kepribadian Big Five lebih mirip laporan pemeriksaan kesehatan, memberimu lima garis skor kontinu, memberi tahumu di posisi mana setiap item jatuh. Yang pertama membuat orang merasakan memiliki rasa kepemilikan, yang kedua mengejar ketelitian. Perbedaan ini bukan tentang siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan masalah yang ingin kamu selesaikan berbeda, sehingga alat yang cocok juga berbeda.

Jadi ketika kamu melihat pernyataan seperti "MBTI itu tidak ilmiah, Big Five yang ilmiah", jangan terburu-buru untuk langsung menerimanya mentah-mentah. Pernyataan itu ada benarnya, tetapi menempatkan keduanya pada tolok ukur yang sama untuk dibandingkan justru mengabaikan fakta bahwa keduanya memang ingin melakukan hal yang berbeda. Dengan memahami hal ini, perbandingan selanjutnya tidak akan melenceng.

Sumber teoretis: dikotomi Jung vs induksi statistik lima dimensi

Akar dari MBTI adalah teori tipe psikologis dari psikolog Carl Jung. Jung mengemukakan bahwa manusia memiliki beberapa kelompok kecenderungan psikologis yang berlawanan, contohnya perhatian yang mengarah ke luar atau ke dalam, dan preferensi untuk menerima informasi menggunakan panca indra atau intuisi. Kemudian, pasangan ibu dan anak Myers merangkum gagasan ini menjadi empat kelompok dimensi dikotomi: ekstrovert dan introvert (E/I), sensing dan intuisi (S/N), thinking dan feeling (T/F), serta judging dan perceiving (J/P). Masing-masing kelompok mengambil satu sisi, lalu bergabung menjadi 16 tipe. Logika dasarnya adalah dikotomi "salah satu dari dua": kamu cenderung E, atau kamu cenderung I.

Asal-usul kepribadian Big Five sangatlah berbeda. Hal tersebut tidak diturunkan dari teori seorang master tertentu, melainkan dirangkum berulang kali oleh para peneliti menggunakan metode statistik dari deskripsi kata sifat manusia yang masif, menemukan bahwa perbedaan kepribadian secara garis besar dapat dikerucutkan menjadi lima dimensi: keterbukaan, kehati-hatian, ekstraversi, keramahan, dan neurotisisme (singkatan huruf awal bahasa Inggris menjadi OCEAN). Hal tersebut tidak memiliki teori terlebih dahulu baru dibuktikan, melainkan mengumpulkan data massal terlebih dahulu, kemudian membiarkan kelima dimensi tersebut "muncul" dengan sendirinya.

Perbedaan latar belakang ini sangat krusial. MBTI adalah sistem klasifikasi yang diturunkan dari teori ke bawah, kelebihannya adalah ada seperangkat teori di balik "mengapa manusia beroperasi seperti ini", yaitu fungsi kognitif yang kemudian dikembangkan; kekurangannya adalah teori itu sendiri tidak mudah diverifikasi secara ketat melalui eksperimen. Big Five adalah sistem pengukuran yang tumbuh dari data ke atas, kelebihannya adalah landasan statistiknya solid dan memiliki keterulangan lintas budaya yang tinggi, kekurangannya adalah lebih mirip mendeskripsikan fenomena dan lebih sedikit membahas tentang "mengapa".

Perbedaan hasil tes: Kategori vs Skor Kontinu

Perbedaan paling nyata sudah bisa terlihat pada saat kamu mendapatkan hasilnya. Setelah menyelesaikan MBTI, kamu akan mendapatkan label empat huruf seperti ENFP atau ISTJ, rasanya sangat jelas: aku memang tipe ini. Setelah menyelesaikan Big Five, kamu mendapatkan lima skor, misalnya extraversion yang tinggi, conscientiousness sedang, dan neuroticism rendah, tidak ada nama yang keren, tetapi tinggi rendahnya setiap item ditandai dengan sangat jelas.

Hal ini memunculkan masalah teknis MBTI yang sering dikritik: pemotongan dikotomis. Misalkan garis pemisah antara ekstroversi dan introversi berada di tengah, satu orang kebetulan berada di 51% ekstrovert, dan yang lain berada di 49%, kedua orang ini sebenarnya hampir sama persis, tetapi MBTI akan menilai satu sebagai E dan satu lagi sebagai I, yang tampak seperti dua jenis orang. Dalam kenyataannya, banyak orang yang memang berada di zona tengah, dan jika dipaksa harus memilih salah satu dari dua, hasilnya adalah mudah "kali ini diuji E, tes berikutnya berubah menjadi I". Big Five tidak memiliki masalah ini karena menggunakan skor kontinu, orang yang berada di tengah akan diberi label di tengah, tanpa harus didorong ke salah satu sisi.

Mari ambil contoh lain dalam kehidupan. Orang yang sama, pagi hari baru saja selesai berkumpul dengan sekelompok teman dan merasa sangat asyik, saat dites hasilnya cenderung E; minggu depannya lembur hingga stres berat, hanya ingin tinggal sendirian, saat dites hasilnya cenderung I. Empat huruf MBTI akan berfluktuasi karena hal ini, membuat orang meragukan "mana sebenarnya diriku yang sesungguhnya". Jika dilihat menggunakan Big Five, sifat ekstrovertnya sebenarnya selalu berada di kisaran menengah ke atas, hanya saja kondisi saat itu memengaruhi cara menjawab saat itu. Inilah alasan mengapa memahami prinsip tes jauh lebih penting daripada terpaku pada hasil satu kali tes.

Mengapa kalangan akademis lebih menerima Big Five

Jika kamu telah mencari datanya, kamu akan menemukan bahwa penelitian akademis jauh lebih banyak mengutip tes Big Five daripada MBTI. Alasannya bukanlah karena para akademisi memiliki prasangka terhadap MBTI, melainkan karena Big Five tampil lebih stabil dalam beberapa indikator yang dihargai oleh penelitian. Yang pertama adalah reliabilitas tes ulang: orang yang sama diuji kembali setelah selang waktu tertentu, kelima skor Big Five biasanya relatif berdekatan, sedangkan keempat huruf MBTI relatif lebih mudah berbalik, terutama pada dimensi yang mendekati garis batas.

Kedua adalah kemampuan prediksi. Dunia penelitian akan mengajukan pertanyaan yang sangat realistis: dapatkah tes ini memprediksi kinerja seseorang dalam The World nyata, seperti performa kerja, pencapaian akademis, atau kondisi kesehatan? Conscientiousness (kesetiaaan/ketelitian) dalam Big Five memiliki korelasi positif yang stabil dengan performa kerja di banyak penelitian; sementara neuroticism (neurotisisme) berkaitan dengan kesehatan emosional. Keterkaitan ini telah diverifikasi berulang kali melalui sampel yang besar, menjadikan Big Five sebagai instrumen yang umum digunakan saat meneliti kepribadian.

Namun, di sini perlu diucapkan sepatah kata yang adil: dunia akademik banyak menggunakannya bukan berarti Big Five adalah satu-satunya kebenaran, dan bukan pula berarti Big Five pasti lebih berguna dalam kehidupan sehari-hari. Keterverifikasian dan keterkuantifikasian yang dijunjung tinggi oleh penelitian pada dasarnya adalah dua kebutuhan yang berbeda dari apa yang ingin mudah dipahami dan dikomunikasikan oleh orang awam. Menerjemahkan "lebih diakui dunia akademik" secara langsung menjadi "MBTI tidak bernilai" adalah salah baca yang umum terjadi.

Nilai MBTI seharusnya tidak dihapus begitu saja dengan alasan "tidak ilmiah"

Keunggulan terbesar dari MBTI justru adalah hal yang menjadi kelemahan dari model Big Five: mudah dipahami, mudah diingat, dan mudah dibicarakan. Dengan empat huruf yang dipasangkan dengan satu nama tipe, orang kebanyakan dapat memahami secara garis besar perbedaan antara diri mereka dan orang lain dalam beberapa menit. Ketika kamu mengatakan kepada rekan kerja, "Aku adalah tipe I yang lebih butuh waktu sendiri untuk mengisi ulang energi", pihak lain akan langsung menangkap maksudmu; jika kamu menggunakan "persentil ekstraversi" dari Big Five untuk menjelaskan hal yang sama, kebanyakan orang justru tidak akan memahaminya. Daya tarik dalam komunikasi inilah yang menjadi alasan sebenarnya mengapa MBTI bisa populer di tempat kerja, pertemanan, dan topik percintaan.

Hal ini juga memiliki fungsi lain yang sering diremehkan: mengurangi permusuhan terhadap perbedaan. Ketika ada seseorang di dalam tim yang terbiasa berpikir matang-matang sebelum berbicara dan ada yang terbiasa berpikir sambil berbicara, tanpa adanya bahasa yang sama mereka akan saling memandang dengan sinis. Dengan menggunakan dimensi seperti T/F dan J/P dari MBTI, hal tersebut dapat menerjemahkan "kamu orang yang bermasalah" menjadi "kita hanya memiliki preferensi yang berbeda". Hal ini sangat membantu secara praktis dalam meredakan gesekan dan meningkatkan empati, dan inilah alasan mengapa alat klasifikasi seperti DISC dan Enneagram selalu memiliki pasar dalam pelatihan perusahaan.

Tentu saja, batasan MBTI juga harus dikatakan secara jujur. Pemotongan dikotomi membuat hasil bagi tipe di tengah menjadi tidak stabil; memasukkan orang ke dalam 16 kotak cenderung mengubahnya menjadi pelabelan, bahkan disalahgunakan untuk menyaring atau menyingkirkan orang; beberapa pernyataan lanjutan membuat tipe tertentu diagungkan atau diibliskan secara berlebihan, hal itu sudah menyimpang dari tujuan awal alat tersebut. Alat itu sendiri bersifat netral, bagaimana cara menggunakannya adalah kuncinya. Sangat bagus menjadikan MBTI sebagai titik awal untuk mengenal diri sendiri, tetapi akan menjadi berbahaya jika menjadikannya kesimpulan untuk menghakimi kemampuan orang lain.

Apakah keduanya bisa saling melengkapi? Sebenarnya bisa digunakan secara berpasangan

Menyatukan MBTI dan Big Five tidaklah saling bertentangan, bahkan dapat saling melengkapi kekurangan masing-masing. Cara penggunaan yang baik adalah: gunakan MBTI sebagai "bahasa pengantar dan komunikasi", dan gunakan Big Five sebagai "kalibrasi presisi". Andalkan MBTI terlebih dahulu untuk dengan cepat membangun kesan menyeluruh tentang diri sendiri serta memiliki kosakata bersama saat mengobrol; lalu gunakan Big Five untuk melihat seberapa condong kamu pada setiap dimensi dan mana yang sebenarnya berada di tengah, guna menghindari keterikatan mati pada empat huruf tersebut.

Ambil contoh nyata. Seseorang yang dites sebagai INFJ, merasa dirinya introvert, mementingkan perasaan, dan terencana dalam bertindak. Namun saat ia menggunakan Big Five, ia mendapati bahwa ekstroversi sebenarnya berada di kisaran menengah rendah alih-alih sangat rendah, tingkat keramahannya tinggi, dan neurotisisme berada di kisaran menengah. Pada saat itu pemahamannya terhadap diri sendiri menjadi lebih utuh: bukan "aku memang orang yang tidak pandai bersosialisasi", melainkan "aku cenderung introvert di sebagian besar situasi, tetapi sebenarnya cukup pandai mengobrol satu lawan satu atau di hadapan orang yang akrab". MBTI memberinya kerangka, Big Five memberinya skala.

Sebaliknya juga berlaku. Seseorang mengerjakan Big Five terlebih dahulu, mendapatkan lima skor tetapi tidak tahu bagaimana cara menjelbitkannya kepada orang lain, pada saat ini ketika mencocokkan hasil tersebut kembali ke bahasa MBTI, komunikasi menjadi lancar. Jadi daripada bertanya "harus percaya yang mana", lebih baik anggap keduanya sebagai dua lensa untuk hal yang sama: yang satu melihat garis besar, yang satunya melihat detail. Jika kamu ingin lebih komprehensif mengenal diri sendiri, kamu juga bisa memadukannya dengan DISC untuk melihat gaya perilaku, Enneagram untuk melihat motivasi inti, saling referensi dari berbagai sudut pandang.

Mana yang lebih cocok digunakan oleh orang awam dan perusahaan

Jika kamu ingin mengenal diri sendiri, mengobrol dengan pasangan atau rekan kerja dengan lebih lancar, serta mencari arah pertumbuhan diri, MBTI biasanya merupakan titik awal yang lebih praktis. MBTI memiliki hambatan yang rendah, memiliki bahasa komunitas yang siap pakai, dan setelah menyelesaikan tes MBTI, kamu akan dengan mudah menemukan banyak diskusi untuk perbandingan dan pengembangan lebih lanjut. Jalur yang "memiliki resonansi terlebih dahulu, baru kemudian mendalam secara perlahan" seperti ini terasa menyenangkan sekaligus tidak terlalu menekan bagi kebanyakan orang.

Jika Anda ingin melakukan tujuan yang lebih serius, seperti penelitian akademis, membutuhkan kuantifikasi kepribadian dengan hasil tertentu, atau menginginkan laporan sifat pribadi yang relatif stabil saat diuji ulang, Big Five akan menjadi alat yang lebih tepat. Alat ini memberikan skor kontinu, yang memudahkan statistik, pelacakan perubahan, dan tidak akan mudah berubah sisi hanya karena mendekati garis batas.

Mengenai perusahaan, ada satu batasan yang harus diingatkan secara khusus di sini: terlepas dari apakah menggunakan MBTI atau Big Five, sangat tidak disarankan untuk menjadikannya sebagai penyaringan kaku untuk diterima atau tidaknya seseorang. Tes kepribadian cocok digunakan dalam komunikasi tim, kesadaran diri, pelatihan, dan pencocokan peran untuk membantu semua orang memahami perbedaan satu sama lain; begitu alat ini digunakan untuk menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus pergi, hal itu tidak hanya berpotensi salah menilai, tetapi juga melanggar tujuan asli perancangan alat tersebut. Jika ingin menerapkannya di dalam tim, alat yang condong pada komunikasi perilaku seperti DISC yang dipasangkan dengan MBTI sering kali jauh lebih pragmatis daripada hanya mengandalkan satu rangkaian tes saja. Pada akhirnya, kedua rangkaian tes tersebut adalah cermin untuk melihat diri sendiri dan orang lain. Jelas atau tidaknya cermin tersebut memantulkan bayangan, tetap bergantung pada bagaimana kamu menggunakannya.

Pertanyaan Umum FAQ

Mana yang lebih akurat, MBTI atau Big Five?

Tergantung pada apa yang kamu maksud dengan "akurat". Jika mengacu pada stabilitas tes ulang dan kemampuan memprediksi kinerja nyata, Big Five biasanya berkinerja lebih stabil dalam penelitian, sehingga lebih banyak dikutip oleh dunia akademis. Namun, jika yang dimaksud adalah "membantu dirimu dengan cepat mengenali diri sendiri dan mengomunikasikan perbedaan dengan orang lain", MBTI justru lebih mudah digunakan. Tujuan yang diuji oleh keduanya berbeda, ketimbang membandingkan mana yang akurat, lebih baik melihat masalah apa yang ingin kamu selesaikan sebelum memilih alat.

Karena kalangan akademis lebih mengakui Big Five, apakah berarti MBTI sudah tidak berguna lagi?

Bukan begitu. Dunia akademik mementingkan aspek yang dapat dikuantifikasi dan diverifikasi, yang merupakan dua kebutuhan berbeda dari apa yang diinginkan orang awam agar mudah dipahami dan dikomunikasikan. Empat huruf MBTI mudah diingat, mudah diucapkan untuk mengobrol, dan dapat menerjemahkan "kamu bermasalah" menjadi "preferensi kita berbeda", yang sangat praktis dalam komunikasi di tempat kerja dan eksplorasi diri. Membaca "lebih jarang dikutip oleh dunia akademik" secara langsung sebagai "tidak bernilai" adalah kesalahpahaman yang umum.

Mengapa hasil tes MBTI-ku selalu sedikit berbeda setiap kali mengerjakannya?

Kemungkinan besar karena kamu kebetulan berada di dekat titik batas pada beberapa dimensi. MBTI menggunakan sistem dikotomi, dan orang-orang yang berada di dekat bagian tengah cenderung dinilai sebagai E pada tes kali ini, dan I pada tes berikutnya. Ditambah lagi, suasana hati dan situasi saat tes juga akan memengaruhi jawabanmu. Ini tidak berarti tes tersebut sepenuhnya salah, melainkan sebagai pengingat agar kamu tidak terpaku pada hasil empat huruf tunggal, serta bisa menggunakan skor kontinu dari model *Big Five* untuk melihat seberapa besar kecenderunganmu sebenarnya.

Apa arti OCEAN dari Big Five personality?

OCEAN adalah singkatan dari huruf depan bahasa Inggris untuk kelima dimensi Big Five: openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism. Setiap item adalah skor kontinu, yang mengukur apakah kecenderungan masing-masing tinggi atau rendah, alih-alih menggolongkanmu ke dalam suatu tipe tertentu. Misalnya, orang dengan conscientiousness yang tinggi biasanya teratur dalam bekerja dan menepati janji; orang dengan neuroticism yang tinggi memiliki fluktuasi emosi yang lebih besar.

Bisakah MBTI dan Big Five digunakan bersamaan?

Bisa, dan sangat disarankan. Dalam praktiknya, MBTI sering digunakan sebagai pintu masuk dan bahasa komunikasi untuk dengan cepat membangun kesan menyeluruh tentang diri sendiri; kemudian gunakan Big Five untuk kalibrasi secara mendetail guna melihat seberapa condong kamu pada setiap dimensi dan mana yang sebenarnya berada di tengah. Satu alat melihat garis besar, satu alat melihat skala, kombinasi keduanya jauh lebih utuh daripada hanya mengandalkan satu set alat saja. Jika ingin lebih komprehensif lagi, kamu juga bisa merujuk pada DISC atau Enneagram.

Apakah rekrutmen perusahaan boleh menggunakan MBTI atau Big Five untuk menyaring kandidat?

Tidak disarankan untuk menjadikan tes kepribadian apa pun sebagai standar kaku untuk merekrut atau tidak merekrut seseorang. Tes kepribadian cocok digunakan dalam komunikasi tim, pencocokan peran, kesadaran diri, dan pelatihan, untuk membantu semua orang memahami perbedaan satu sama lain; menggunakannya untuk memutuskan siapa yang bisa bertahan dan siapa yang harus pergi rentan terhadap salah penilaian, dan juga melanggar tujuan asli dari alat tersebut. Jika benar-benar ingin menerapkannya dalam tim, menggunakan MBTI atau DISC sebagai bantuan komunikasi akan jauh lebih tepat daripada dijadikannya ambang batas penyaringan.

Tes yang disebutkan dalam artikel

Klik kartu di bawah ini untuk segera tes gratis

Penulis: Tim MBT1

Kami adalah tim yang terdiri dari pengajar bersertifikasi MBTI dan para partner yang mencintai psikologi kepribadian. Kami percaya bahwa mengenal diri sendiri seharusnya bukan ilmu yang rumit — jadi kami mengubah teori 16 tipe kepribadian yang ketat menjadi konten yang mudah dibaca dan digunakan oleh siapa saja.

Setiap artikel menggabungkan pengamatan dari lokasi pengajaran, konseling aktual, dan kasus kehidupan, mulai dari sifat kepribadian, percintaan, karier hingga hubungan interpersonal, ditulis sedetail dan sedekat mungkin dengan kenyataan. Tujuan kami sangat sederhana: setelah kamu selesai membacanya, kamu benar-benar lebih memahami diri sendiri, dan juga lebih tahu cara bergaul dengan orang-orang di sekitarmu.

  • Konten ditinjau oleh instruktur bersertifikasi MBTI, berupaya untuk profesional dan akurat
  • Seluruh artikel asli dalam Bahasa Mandarin Tradisional, tidak menerjemahkan, tidak menjiplak situs web luar negeri
  • Secara berkala meninjau dan memperbarui koreksi berdasarkan sudut pandang terbaru
  • Bertujuan untuk eksplorasi diri dan pertumbuhan, tidak memberi label, tidak membesar-besarkan

※ Seluruh konten hanya untuk referensi eksplorasi diri dan pertumbuhan, bukan diagnosis medis atau psikologis.

Lebih banyak artikel Pengetahuan MBTI

Tautan berhasil disalin!
>>>