Sulit memilih? 6 cara meninggalkan keraguan
Apakah kamu sering terjebak pada saat-saat seperti ini: berdiri di pintu restoran melihat menu makanan selama hampir sepuluh menit, pelayan bahkan sudah datang bertanya untuk kedua kalinya, kamu masih saja berjuang antara mi daging sapi dan nasi daging babi; ingin membeli sepasang earphone, membuka situs belanja untuk membandingkan spesifikasi, melihat ulasan, membuka tujuh atau delapan tab untuk melakukan perbandingan silang, membandingkan hingga pada akhirnya merasa begitu lelah sampai menyerah begitu saja; ingin membalas satu kalimat kepada teman, pesan diketik lalu dihapus, dihapus lalu diketik lagi, hanya sebuah balasan sederhana menghabiskan waktu setengah jam. Keraguan-keraguan yang tampak seperti urusan sepele dalam hidup ini, jika ditotal sebenarnya secara diam-diam telah menggerogoti banyak waktu dan tenaga mentalmu, bahkan membuatmu melewatkan tidak sedikit kesempatan. Jika gambaran-gambaran ini membuatmu mengangguk-angguk setuju, jangan buru-buru memberi label "aku memang orang yang bimbang" pada diri sendiri. Di balik keraguan dalam memilih biasanya ada penyebabnya, dan ada juga solusi yang dapat dilatih. Artikel ini akan membawamu melihat dengan jelas mengapa dirimu begitu sulit mengambil keputusan, harga tak kasat mata apa saja yang telah dibayar akibat keraguan yang berkepanjangan, dan pada akhirnya memberimu enam metode yang bisa dicoba hari ini juga, untuk perlahan-lahan mengubah urusan mengambil keputusan dari sebuah siksaan menjadi sesuatu yang santai.
Mengapa kamu selalu ragu memilih? Lima penyebab umum
Banyak orang mengira keraguan dalam memilih hanyalah "terlalu banyak berpikir" atau "kepribadian yang lemah", tetapi jika kamu hanya berhenti pada penjelasan ini, kamu tidak akan pernah menemukan jalan keluarnya. Di balik keragu-raguan, sering kali bukanlah karena satu alasan tunggal, melainkan beberapa faktor psikologis yang saling menjalin. Kenali mereka terlebih dahulu, barulah kamu tahu di bagian mana kamu terjebak.
Penyebab umum yang pertama adalah "takut membuat keputusan yang salah". Bagi sebagian orang, setiap pilihan secara tidak kasat mata diperbesar menjadi sebuah ujian, seolah-olah salah memilih akan berakibat pada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan. Oleh karena itu, bahkan sebelum memilih, berbagai akhir cerita yang buruk sudah diputar terlebih dahulu di dalam kepala, di mana membayangkannya saja sudah membuat seseorang menunda-nunda untuk mengambil langkah. Yang kedua adalah "perfeksionisme". Ada suara di dalam hatimu yang mengatakan "harus memilih yang paling baik itu", sehingga kamu terus mengumpulkan informasi dan membandingkan berulang kali karena takut melewatkan opsi yang lebih hemat dan lebih ideal; akibatnya, semakin banyak informasi yang dicari, semakin sulit pula untuk mengambil pilihan.
Penyebab ketiga adalah "pilihan yang terlalu banyak". Secara intuitif, kita mengira semakin banyak pilihan maka semakin bebas, tetapi penelitian psikologis mendapati bahwa ketika pilihan sudah mencapai tingkat tertentu, seseorang justru akan mengalami 'hang' akibat beban perbandingan dan penimbangan yang terlalu berat, atau bahkan langsung memilih untuk tidak memilih. Satu dinding penuh variasi keripik kentang, ratusan rencana asuransi, dan daftar belanjaan yang digulir tanpa ujung, semuanya dapat menjerumuskanmu ke dalam "kelebihan muatan pilihan" semacam ini. Yang keempat adalah "ketakutan akan penyesalan". Kamu tidak hanya takut salah pilih, tetapi lebih takut mendapati fakta setelahnya "andai saja aku memilih yang lain", dan pratinjau penyesalan terhadap masa depan inilah yang membuatmu lebih baik menunda membuat keputusan.
Poin kelima, dan yang paling mudah diabaikan, adalah "kurang memahami diri sendiri". Ketika kamu sebenarnya tidak jelas mengenai apa yang benar-benar kamu pedulikan dan apa yang kamu inginkan, setiap pilihan akan tampak memiliki alasan yang sama benarnya dan risiko yang sama besarnya, secara alami sulit membedakan prioritas dan membuat pilihan. Sering kali kita mengira diri kita sedang bimbang memilih opsi, padahal sebenarnya kita sedang bimbang pada "apa yang sebenarnya aku inginkan".
Harga dari keraguan dalam memilih: hal-hal yang dicuri oleh keragu-raguan
Ragu-ragu terasa sangat aman, toh "belum memutuskan" berarti belum menanggung risiko. Namun, rasa aman ini ada harganya, dan harganya sering kali jauh lebih tinggi dari yang kamu kira, hanya saja harganya tersebar dalam keseharian sehingga tidak mudah terlihat sekaligus.
Memilih menunda-nunda, memilih menunggu dan melihat, memilih menyerahkannya kepada orang lain, ini semua adalah pilihan yang sedang kamu ambil, dan biasanya bukanlah pilihan yang paling menguntungkan bagimu. Melihat hal ini dengan jelas, terkadang justru bisa membuatmu lebih rela untuk secara proaktif memegang kembali kemudi.
- Melewatkan kesempatan: Banyak pilihan memiliki batas waktu. Kamu masih menimbang-nimbang pekerjaan itu, rumah itu, pendaftaran acara itu, hingga akhirnya kamu memikirkannya dengan matang, kuotanya sudah habis, harganya sudah naik, dan pihak lain pun tidak mau menunggu lagi, waktu terbaik pun berlalu begitu saja.
- Menyerahkan hak mengambil keputusan kepada orang lain: Ketika kamu terus menunda-nunda untuk memilih, keputusan biasanya akan diambil oleh orang lain atau lingkungan untukmu. Saat makan bersama kamu bilang "terserah", tetapi akhirnya malah memakan makanan yang sebenarnya tidak kamu sukai; arah besar dalam hidup terus kamu tunda, hingga akhirnya terdorong oleh realitas dan menjalani kehidupan yang bukan pilihanmu.
- Menghabiskan banyak tenaga mental: Perbandingan dan pertimbangan yang berulang-ulang akan terus menyita kapasitas otakmu, membuatmu merasa lelah sepanjang hari. Dalam psikologi ada konsep yang disebut "kelelahan mengambil keputusan", di mana membuat terlalu banyak keputusan sepele akan menguras kemauan, dan ketika saatnya tiba untuk hal-hal yang benar-benar penting, kamu justru sudah tidak memiliki tenaga untuk memikirkannya dengan baik.
- Yang terlewatkan bukan hanya pilihan, melainkan juga pengalaman: ketika kamu menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan "memilih yang mana", waktu untuk benar-benar mengalami dan menikmati hal tersebut menjadi berkurang. Uang yang dihemat dari membandingkan harga selama dua jam belum tentu sebanding dengan kebahagiaan dan energi mental dari dua jam tersebut.
- Mengakumulasikan keraguan diri: Setiap kali ragu-ragu hingga akhirnya mengambil keputusan serampangan, atau memilih untuk tidak mengambil keputusan sama sekali, hal itu akan secara diam-diam memperkuat kesan "aku memang tidak bisa mengambil keputusan", membuat pengambilan keputusan berikutnya menjadi semakin sulit, membentuk lingkaran setan di mana semakin takut memilih semakin tidak berani memutuskan.
Cara pertama: tetapkan standar keputusan terlebih dahulu, baru mulai memilih
Banyak orang merasa semakin bingung saat memilih karena mereka langsung terjun ke dalam pilihan-pilihan yang ada baru mulai memikirkan "apa yang sebenarnya kuinginkan". Akibatnya, setiap kali melihat satu pilihan, mereka terpikat oleh keunggulannya namun langsung ciut karena kekurangannya. Standar mereka terus berubah seiring dengan pilihan yang ada, sehingga tentu saja mereka tidak akan pernah bisa mengambil keputusan. Urutan yang lebih baik adalah mundur selangkah terlebih dahulu, pikirkan standar pengambilan keputusanmu dengan matang, baru kemudian kembali melihat pilihan-pilihan tersebut.
Caranya sangat sederhana: sebelum mulai membandingkan, tulislah dua atau tiga hal yang paling kamu pedulikan dalam keputusan kali ini, dan urutkan berdasarkan prioritas. Misalnya ingin menyewa rumah, kamu mungkin mencantumkan "waktu komuter dalam dua puluh menit, sewa bulanan tidak melebihi angka tertentu, harus memiliki jendela luar". Begitu standar menjadi jelas, pilihan yang tidak memenuhi syarat dapat disingkirkan dengan cepat, objek yang harus kamu bandingkan langsung berubah dari dua puluh menjadi tiga. Poin utamanya adalah standarnya harus sedikit dan bagus, dalam tiga item saja sudah cukup, terlalu banyak syarat sama dengan tidak ada syarat, dan kamu akan membawa diri kembali ke titik awal.
Menetapkan standar juga memiliki keuntungan lain: standar membantu mengubah "preferensi subjektif" menjadi "dasar yang dapat dinilai". Ketika kamu merasa mandek, kembalilah dan tanyakan "mana yang lebih sesuai dengan standar yang kubuat di awal", alih-alih terus-menerus goyah berdasarkan perasaan saat itu. Jika kamu kurang yakin dengan reaksi kebiasaanmu dalam berbagai pilihan, kamu bisa mencoba mengerjakan <a href="/choiceparalysis">tes kebingungan dalam memilih</a> terlebih dahulu, melihat termasuk dalam tipe keraguan yang mana dirimu, lalu menyesuaikan cara pengambilan keputusanmu secara spesifik.
Metode dua: Menetapkan batas waktu untuk sebuah keputusan
Keragu-raguan bisa diperpanjang tanpa batas karena hal tersebut tidak memiliki titik akhir. Selama tidak ada batas waktu, kamu akan merasa selalu ada ruang untuk "berpikir sedikit lagi, mencari tahu sedikit lagi", sehingga keputusan terus diundur tanpa batas. Menetapkan deadline yang jelas untuk sebuah keputusan sama dengan mengakhiri tarik ulur ini.
Kamu dapat memberi dirimu waktu berpikir dengan durasi yang berbeda sesuai dengan tingkat kepentingan keputusan tersebut. Membeli segmen minuman, beri dirimu waktu tiga puluh detik; membeli peralatan rumah tangga, beri dirimu waktu satu malam; mengganti pekerjaan adalah hal besar, beri dirimu waktu satu atau dua minggu untuk mengevaluasi dengan serius. Poin utamanya bukan pada seberapa lama waktunya, melainkan memiliki titik "sampai di sini harus memutuskan" yang jelas. Ketika waktunya tiba, buatlah pilihan di bawah informasi yang ada, dan jangan menengok ke belakang lagi.
Deadline menjadi berguna karena ia memaksamu menerima sebuah kenyataan: kamu tidak akan pernah bisa mengumpulkan "seluruh" informasi, selalu ada bagian yang tidak pasti. Daripada menunggu tanpa batas waktu untuk "momen kepastian mutlak" yang sebenarnya tidak akan datang, lebih baik mengumpulkan informasi dalam rentang yang wajar lalu membuat penilaian dengan tegas. Sebagian besar waktu, memikirkan masalah yang sama selama tiga hari tambahan, jawaban yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dari sekarang, yang berbeda hanyalah dirimu yang secara sia-sia merasa cemas selama tiga hari tambahan.
Metode 3: bedakan keputusan besar dan keputusan kecil, jangan membuang tenaga di tempat yang salah
Orang yang mengalami keraguan dalam memilih memiliki satu titik buta yang sama: memperlakukan semua keputusan dengan kehati-hatian yang sama rata. Entah itu memilih makanan untuk makan malam atau apakah harus mengundurkan diri, mereka menggunakan cara yang sama yaitu "membandingkan berulang kali, mengonfirmasi berkali-kali", alhasil menghabiskan banyak energi untuk hal-hal sepele yang sama sekali tidak layak untuk direnungkan secara berlebihan. Ketika keputusan yang benar-benar penting tiba, mereka justru sudah kelelahan dan kehilangan daya nilai.
Pendekatan yang cerdas adalah mengklasifikasikan setiap keputusan terlebih dahulu: Apakah ini "keputusan besar" atau "keputusan kecil"? Standar penilaiannya sangat praktis, yaitu dengan bertanya pada diri sendiri "jika seandainya salah memilih, seberapa parah akibatnya dan bisakah dipulihkan".
Untuk keputusan kecil, seperti makan siang di restoran mana, membeli merek barang kebutuhan sehari-hari yang hampir sama, atau apakah perlu menghadiri pertemuan yang tidak penting, secara sengaja lakukan "keputusan cepat, jangan menoleh ke belakang". Pilihan semacam ini sekalipun dipilih bukan yang terbaik, kerugiannya sangat kecil dan sering kali masih bisa diubah kapan saja, menyia-nyiakan waktu untuk hal tersebut justru merupakan kerugian yang sesungguhnya. Kamu bahkan bisa menetapkan beberapa "opsi bawaan" untuk dirimu sendiri, seperti "jika tidak tahu ingin minum apa, pesan Americano saja", yang langsung memangkas rasa galau.
Simpan energi pengambilan keputusan yang telah dihemat untuk keputusan-keputusan besar yang benar-benar akan memengaruhi arah hidupmu: apakah akan menerima pekerjaan ini, apakah akan melanjutkan suatu hubungan, atau apakah akan pindah ke kota lain. Hal-hal ini layak untuk kamu pikirkan secara perlahan, teliti dengan serius, dan diskusikan dengan orang lain. Belajarlah mengalokasikan hal yang ringan dan berat, agar kamu tidak menghabiskan tenaga pada hal-hal kecil, tetapi bertindak gegabah pada hal-hal besar.
Cukup baik saja vs Mengejar yang terbaik: Dua cara menjalani hidup dalam mengambil keputusan
Psikologi membagi manusia ke dalam dua gaya pengambilan keputusan: Satu adalah tipe "pencari yang terbaik", yang ingin menemukan satu solusi optimal terbaik dalam setiap pilihan, dan tidak akan merasa tenang sebelum mengumpulkan semua opsi dan memastikan dirinya tidak melewatkan kemungkinan yang lebih baik; satu lagi adalah tipe "cukup baik", yang memiliki seperangkat standar di dalam hatinya, selama menemukan opsi yang memenuhi standar, mereka akan dengan tegas memilihnya dan tidak menengok ke belakang untuk membandingkan lagi. Penelitian menemukan bahwa pencari yang terbaik belum tentu memilih hasil yang lebih buruk secara objektif, tetapi mereka menghabiskan lebih banyak waktu dan menanggung lebih banyak kecemasan dalam prosesnya, serta lebih sering menyesal dan kurang puas dengan pilihan mereka setelahnya.
Cukup baik (satisficing)
- Tetapkan kriteria terlebih dahulu, jika cocok langsung pilih, berhenti membandingkan tanpa batas
- Kecepatan mengambil keputusan yang cepat menghemat banyak waktu dan tenaga mental
- Setelah memilih, langsung terjun ke dalam pengalaman dan lebih jarang menoleh ke belakang dengan penuh penyesalan
- Tingkat kepuasan terhadap hasil biasanya jauh lebih tinggi dan lebih santai
⚠ Mengejar yang terbaik (maximizing)
- Ingin menemukan satu solusi terbaik, harus melihat semua pilihan dulu baru merasa tenang
- Proses pengambilan keputusan yang panjang, rentan terjebak dalam kelebihan beban perbandingan dan kelelahan
- Setelah memilih masih tidak bisa menahan diri untuk berpikir "apakah ada pilihan yang lebih baik"
- Kecemasan dan penyesalan setelah kejadian sering kali lebih banyak dan lebih tidak memuaskan
Melihat perbedaan dari kedua gaya ini dengan jelas, kamu akan menemukan bahwa "cukup baik saja" sebenarnya bukanlah bentuk berkompromi, melainkan bentuk kebijaksanaan yang lebih pragmatis dan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Hal tersebut mengakui bahwa pada The World sebagian besar pilihan tidak memiliki solusi sempurna, alih-alih menguras pikiran mengejar "yang terbaik" yang mungkin tidak wujud sama sekali, lebih baik memilih yang cukup baik lalu menjalaninya dengan baik. Berlatih menjadi orang yang merasa cukup baik, sering kali jauh lebih bisa membawamu keluar dari kebingungan dalam memilih daripada menjadi orang yang lebih pandai membandingkan.
Metode empat sampai enam: Percaya intuisi, terima ketidaksempurnaan, perlahan latih kembali kenyamanan dalam mengambil keputusan
Sebelumnya kita telah membahas tentang menetapkan standar, menetapkan deadline, dan memilah tingkat prioritas. Beberapa metode terakhir ini akan kembali pada penyesuaian mentalitas yang lebih internal. Metode keempat adalah "mempercayai intuisi pada saat yang tepat". Kita sering diajari bahwa keputusan harus mengandalkan analisis rasional, tetapi untuk pilihan-pilihan yang sudah sangat kamu kenal atau yang tidak dapat dianalisis standarnya secara instan, intuisi pertama sebenarnya adalah integrasi cepat dari pengalaman masa lalumu, yang sering kali lebih mendekati preferensi sejatimu daripada alasan yang kamu paksakan. Tes sederhana adalah: ketika kamu melempar koin dan berpura-pura memutuskan satu sisi, perhatikan apakah hatimu sesaat merasa lega atau sedikit kecewa; reaksi emosional tersebut sering kali adalah jawabannya.
Metode kelima adalah "menerima bahwa tidak ada pilihan yang sempurna". Hampir setiap opsi memiliki kelebihan dan kekurangannya, jika kamu memilih A maka kamu akan kehilangan beberapa keunggulan B, ini adalah esensi dari sebuah pilihan, bukan karena pilihanmu kurang cerdas. Ketika kamu bisa melepaskan obsesi "harus menemukan opsi tanpa kekurangan", mengakui bahwa setiap keputusan pasti membawa sedikit penyesalan, tekanan dalam membuat keputusan akan langsung berkurang setengahnya. Fokusnya sama sekali bukan memilih yang sempurna, melainkan setelah memilih, menjadikannya lebih baik.
Metode yang keenam adalah "memperlakukan pengambilan keputusan sebagai kemampuan yang dapat dilatih". Tidak ada orang yang terlahir tegas, mengambil keputusan itu seperti otot, semakin jarang digunakan semakin menyusut, semakin sering dilatih semakin lincah. Kamu bisa mulai melatihnya secara sengaja dari keputusan-keputusan kecil dalam hidup, batasi waktu, tegas, dan jangan menoleh ke belakang, biarkan otak perlahan mengumpulkan pengalaman berupa "aku membuat keputusan, dan The World juga tidak runtuh". Setiap kali berhasil mengambil keputusan, itu sama saja sedang menabung untuk kepercayaan diri dalam pengambilan keputusanmu sendiri.
Keragu-raguan tidak akan hilang dalam semalam, tetapi kamu bisa mulai dari sepatah kata atau seporsi makan siang hari ini, untuk memperlakukan pilihan dengan cara yang berbeda. Jika kamu ingin lebih memahami di tipe keraguan mana kamu terjebak dan ketakutan apa yang bersembunyi di baliknya, tidak ada salahnya meluangkan waktu beberapa menit untuk mengikuti tes keraguan di mbt1.org, lalu dipadukan dengan "tes pola pikir berkembang" untuk melihat reaksi kebiasaanmu saat menghadapi ketidakpastian dan kegagalan. Ingat, mampu membaca sampai di sini dan bersedia menghadapi keraguan diri secara langsung sebenarnya sudah merupakan keputusan yang sangat baik.
Pertanyaan Umum FAQ
Apakah keraguan dalam memilih adalah sebuah penyakit? Perlu ke dokterkah?
Keputusan yang sulit bukanlah diagnosis medis resmi, melainkan semacam kesulitan pengambilan keputusan umum dan pola psikologis yang dialami oleh hampir semua orang dalam situasi tertentu. Kesulitan pengambilan keputusan bagi kebanyakan orang dapat diperbaiki secara perlahan dengan menyesuaikan metode dan pola pikir, misalnya dengan menetapkan standar keputusan, memberi diri sendiri deadline, dan berlatih konsep "cukup baik". Namun, jika keraguanmu sudah sangat parah hingga tidak mampu membuat keputusan sehari-hari, disertai kecemasan hebat atau pengecekan ulang yang berulang kali, serta jelas-jelas memengaruhi pekerjaan dan kehidupan, maka di balik itu mungkin berkaitan dengan kondisi yang berhubungan dengan kecemasan. Pada saat ini, mencari evaluasi dari seorang psikolog atau psikiater akan menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
Kenapa semakin banyak pilihan justru membuatku semakin sulit memilih?
Ini sebenarnya adalah fenomena yang sangat umum, yang dalam psikologi disebut sebagai "kelebihan pilihan". Secara intuitif kita mengira semakin banyak pilihan semakin bebas, tetapi ketika pilihan sudah mencapai tingkat tertentu, beban perbandingan dan penimbangan akan meningkat tajam Ascendant, otak mudah mengalami gangguan saat menghadapi terlalu banyak kemungkinan, bahkan memilih untuk tidak memilih karena takut salah pilih atau takut melewatkan sesuatu yang lebih baik. Selain itu, semakin banyak pilihan, ruang untuk penyesalan setelahnya "apakah akan ada yang lebih baik" juga semakin besar. Cara mengatasinya adalah dengan secara aktif "mempersempit pilihan" untuk diri sendiri, menyaring hal yang tidak sesuai terlebih dahulu menggunakan dua atau tiga kriteria yang jelas, dan mereduksi objek yang akan dibandingkan menjadi kurang dari tiga, maka keputusan akan menjadi jauh lebih mudah.
Bagaimana membedakan apakah sebuah keputusan harus diambil dengan cepat atau dipikirkan perlahan?
Standar penilaian yang paling praktis adalah dengan menanyakan dua pertanyaan pada diri sendiri: seberapa parah konsekuensinya seandainya salah memilih? Serta, apakah keputusan ini dapat diubah atau ditarik kembali setelahnya? Jika konsekuensinya ringan dan dapat disesuaikan kapan saja, misalnya makan siang apa atau membeli perlengkapan harian jenis apa, maka putuskanlah dengan sengaja secara cepat dan jangan menoleh ke belakang, hematlah tenaga mentalmu. Jika konsekuensinya besar dan sulit untuk dipulihkan, misalnya pindah pekerjaan, konsumsi besar, pilihan dalam percintaan atau tempat tinggal, maka hal itu layak untuk membuatmu lebih banyak meluangkan waktu mengumpulkan informasi, mengevaluasinya dengan serius, bahkan mengajak orang lain berdiskusi. Belajar memilah tingkat kepentingan akan menghindarkanmu dari menghabiskan tenaga pada hal-hal sepele dan bersikap terlalu gegabah pada hal-hal besar.
Aku sangat takut menyesal setelah salah memilih, bagaimana cara menyesuaikan pola pikir ini?
Takut menyesal adalah inti penyebab dari keraguan dalam memilih, dan kunci penyesuaiannya terletak pada pemahaman ulang tentang "penyesuaian". Pertama, terimalah bahwa hampir setiap pilihan memiliki untung dan rugi; memilih satu hal berarti kehilangan beberapa keuntungan dari hal lain. Ini adalah esensi dari sebuah pilihan dan tidak berarti kamu salah pilih. Kedua, ingatkan dirimu bahwa "tahu begini" setelah kejadian sering kali hanyalah sebuah ilusi, karena kamu menggunakan informasi yang baru kamu ketahui sekarang untuk menilai keputusan di masa lalu, yang tidak adil bagi dirimu di masa itu. Ketiga, alihkan fokus dari "memilih yang terbaik" menjadi "menjalani pilihan tersebut dengan sebaik-baiknya". Kualitas sebagian besar keputusan sebenarnya bergantung pada bagaimana kamu mengelolanya ke depan, bukan pada pilihan yang dibuat saat itu.
Apakah "cukup baik" sama dengan berkompromi dan menurunkan standar?
Ini adalah kesalahpahaman umum tentang konsep "cukup baik". Cukup baik bukanlah memilih secara sembarangan tanpa standar, justru sebaliknya, hal itu menuntutmu untuk memikirkan dengan jelas dua atau tiga hal yang benar-benar kamu pedulikan terlebih dahulu, baru kemudian membuat keputusan secara tegas dari pilihan-pilihan yang memenuhi standar tersebut. Hal yang dikurangi bukanlah standarnya, tetapi obsesi "harus menemukan satu-satunya solusi yang sempurna". Penelitian menemukan bahwa orang yang terbiasa dengan konsep cukup baik menghabiskan lebih sedikit waktu, menanggung lebih sedikit kecemasan, dan tingkat kepuasan setelahnya justru sering kali lebih tinggi; sedangkan orang yang selalu mengejar yang terbaik, meskipun hasil objektifnya belum tentu lebih baik, justru lebih mudah terjebak dalam kelelahan perbandingan dan penyesalan setelahnya. Oleh karena itu, cukup baik sebenarnya adalah kebijaksanaan yang lebih pragmatis dan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.