Bagaimana berani menyuarakan diri? 6 cara belajar komunikasi asertif
Apakah kamu juga sering mengalami hal seperti ini: jelas-jelas diserobot antreannya namun berpura-pura tidak melihat, rekan kerja mendorong pekerjaan kepadamu tetapi di mulut berkata "baik, tidak masalah", makanan yang disajikan salah tetap dimakan sampai habis, setibanya di rumah malah merasa jengkel setengah mati memikirkan kalimat yang tidak jadi diucapkan tadi. Kamu bukannya tidak bisa mengungkapkan, melainkan setiap kali kata-kata sudah di ujung lidah langsung dicegah oleh kalimat "sudahlah, jangan menimbulkan masalah". Lama-kelamaan, kebutuhanmu ditempatkan di urutan paling belakang, sementara emosi justru semakin menumpuk. Padahal, berani atau tidaknya kamu mengekspresikan diri tidak terlalu berhubungan dengan kepribadian introvert atau ekstrovert, itu adalah kemampuan komunikasi yang dapat dilatih, yang disebut ketegasan. Artikel sini akan membimbingmu memahami apa sebenarnya ketegasan itu, mengapa hal itu begitu sulit, dan memberimu seperangkat metode latihan bertahap yang bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Ketegasan bukanlah kekejaman, melainkan titik tengah yang sehat
Banyak orang tidak berani mengekspresikan diri karena ada kesalahpahaman di dalam hati mereka: mengira bahwa "berbicara untuk diri sendiri" sama dengan "kejam", "egois", dan "sulit bergaul". Maka demi menjadi orang baik, mereka terpaksa menelan kebutuhan mereka sendiri. Namun ketegasan yang sejati tidak berdiri di ujung "kesabaran" maupun "agresi", ketegasan itu tepat berada di garis sehat yang ada di tengah-tengah keduanya.
Kamu bisa menganggap komunikasi sebagai sebuah spektrum. Serta paling kiri adalah pasif: menempatkan kebutuhan orang lain di depan kebutuhan sendiri, terbiasa mengalah, menyenangkan orang lain, dan mendamaikan situasi, dengan bayaran perasaanmu yang diabaikan. Serta paling kanan adalah agresif: menggunakan tuduhan, perintah, dan paksaan emosional untuk menindas orang lain, meskipun menang pada saat itu, hubungan tersebut justru terkuras. Sedangkan ketegasan (assertiveness) berdiri di tengah, dengan inti "aku menghormatimu, dan pada saat yang sama aku juga menghormati diriku sendiri". Kamu akan dengan jelas mengucapkan pemikiran dan kebutuhanmu sendiri, tetapi tidak melewati batas pihak lain, juga tidak merendahkan pihak lain.
Memahami nilai tengah ini sangat penting karena membantumu melepaskan satu ketakutan umum: Kamu akan menyadari bahwa berani mengekspresikan diri tidak berarti harus berubah menjadi orang yang tidak menyenangkan. Orang yang tegas biasanya lebih dipercaya, karena orang lain tahu bahwa saat kamu mengatakan "ya" itu sungguh-sungguh, dan saat kamu mengatakan "tidak" itu juga serius, sehingga bergaul dengan orang seperti ini justru terasa lebih tenteram.
Mengapa Kita Begitu Sulit untuk Mulai Berbicara
Jika ketegasan itu sangat bagus, mengapa melakukannya begitu sulit? Karena hal yang menghentikan kita sering kali bukanlah ketidaktahuan akan caranya, melainkan beberapa ketakutan dan kebiasaan tersembunyi di lapisan dasar yang biasanya tidak begitu kita sadari. Pahami hal itu terlebih dahulu, agar kamu tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri "mengapa begitu tidak berguna".
Jika kamu mendapati dirimu memiliki beberapa poin di atas, mohon jangan terburu-buru menyalahkan diri sendiri. Reaksi-reaksi ini biasanya berasal dari lingkungan dan pengalaman masa lalu, yang merupakan strategi yang kamu kembangkan untuk melindungi diri sendiri pada saat itu. Karena hal itu dipelajari, itu berarti hal tersebut dapat dilatih ulang dan ditulis ulang secara perlahan.
- Takut konflik: Banyak orang sejak kecil diajari untuk "menjunjung tinggi keharmonisan" dan secara otomatis mengartikan setiap perbedaan pendapat sebagai "pertengkaran". Demi menghindari ketegangan yang tidak nyaman tersebut, pada akhirnya mereka memilih untuk tidak mengatakan apa-apa dan menukar ketenangan permukaan dengan sikap mengalah.
- Takut tidak disukai: khawatir jika menolak atau menyatakan pendapat yang berbeda, pihak lain akan marah, menjauhimu, atau bahkan merasa bahwa "aku sulit bergaul". Alhasil, kamu lebih mementingkan kesan baik orang lain daripada kebutuhanmu sendiri.
- Nilai diri yang rendah: ada suara di dalam hati yang berkata "kebutuhanku tidak begitu penting" atau "aku tidak layak merepotkan orang lain", sehingga bahkan hak untuk berbicara pun langsung dibatalkan, merasa bahwa bersabar sedikit tidak akan merepotkan orang lain.
- Terbiasa menyenangkan orang lain: untuk waktu yang lama berperan sebagai sosok yang penuh perhatian, kooperatif, dan mudah diajak kompromi. Seiring berjalannya waktu, bahkan diri sendiri pun lupa bahwa kita berhak memiliki pendapat yang berbeda, dan menjadikan "memuaskan orang lain" sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan pengakuan.
- Tidak tahu cara mengatakannya: Kadang-kadang bukan karena tidak ingin mengungkapkan, melainkan benar-benar belum pernah berlatih, takut jika kata-kata terucap malah menjadi tuduhan atau membuat suasana canggung, sehingga lebih memilih keheningan sebagai pilihan yang paling aman.
- Pengalaman masa lalu: pernah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan isi hati tetapi dimarahi, diabaikan, atau disangkal, ingatan akan luka tersebut akan membuatmu semakin tidak berani untuk berbicara lain waktu.
6 metode untuk belajar komunikasi yang tegas
Setelah memahami titik hambatannya, langkah selanjutnya adalah berlatih secara langsung. Ketegasan, sama seperti rasa percaya diri, diasah melalui latihan alih-alih sekadar dibayangkan, oleh karena itu ke-6 metode berikut dirancang dengan sengaja agar sangat konkret, kamu tidak perlu mengubah diri dalam semalam, cukup mulai dari bagian yang paling kecil dan tidak menakutkan terlebih dahulu.
- Gunakan "pesan saya" untuk mengekspresikan diri, alih-alih "pesan kamu": letakkan fokus pada perasaan dan kebutuhan sendiri, alih-alih menyalahkan pihak lain. Contohnya, alih-alih mengatakan "kamu selalu melimpahkan pekerjaan padaku", ubahlah menjadi "aku sudah memiliki tiga proyek di tangan, sepertinya aku tidak bisa memasukkan proyek ini minggu ini". Pendekatan pertama membuat orang ingin membela diri, sedangkan pendekatan kedua hanya menyatakan fakta, sehingga pihak lain akan lebih bisa mendengarkan.
- Mulai berlatih berkata tidak dari hal-hal kecil: jangan langsung menantang orang yang paling sulit ditolak di awal. Mulailah berlatih dari situasi berisiko rendah, misalnya saat pegawai toko menawarkan produk bilang "terima kasih, saya tidak butuh kali ini", saat teman mengajak kumpul ke tempat yang tidak ingin dikunjungi bilang "kali ini lewat dulu ya". Setiap kali berhasil, otakmu akan mencatat satu poin lagi bahwa "ternyata berkata tidak tidaklah seseram yang dibayangkan".
- Menegaskan bahwa kebutuhanmu adalah hal yang wajar: sebelum berbicara, katakan pada dirimu sendiri di dalam hati "aku berhak untuk mengungkapkan, kebutuhan ini sangat normal". Ingin beristirahat, ingin dihormati, ingin menolak pekerjaan tambahan, semua ini bukanlah hal yang mengada-ngada. Yakinkan dirimu terlebih dahulu, baru kamu bisa mengungkapkannya.
- Latihlah diri untuk berbicara singkat namun tegas, dan jangan terlalu banyak memberikan penjelasan: banyak orang mengucapkan serangkaian alasan yang panjang saat menolak, yang justru memberi celah bagi pihak lain untuk menyelak. Coba sampaikan maksud dengan jelas saja, setelah kalimat "aku tidak bisa" tidak harus diikuti dengan sepuluh alasan pembenaran. Jika diperlukan, kamu bisa menggunakan teknik "piringan hitam rusak" untuk mengulangi pendirian yang sama dengan tenang.
- Perhatikan bahasa tubuhmu: berdiri tegak, tatapan mata lurus ke depan, nada suara stabil, dan tidak tertawa sambil meminta maaf. Ketika tubuhmu menampilkan postur yang tegas, bobot dari kata-katamu akan bertambah secara alami; sebaliknya, postur tubuh yang menyusut akan membuat kata-kata yang paling masuk akal sekalipun tampak tidak memiliki keyakinan.
- Latihan menerima kemungkinan bahwa orang lain merasa tidak senang: Ini adalah langkah yang paling krusial sekaligus paling sulit. Yang harus kamu tolak bukanlah emosi orang lain, melainkan kebiasaan bertanggung jawab penuh atas emosi orang lain. Pihak lain kecewa, mengerutkan kening, bahkan tidak senang, adalah reaksi yang boleh dia miliki, tidak berarti kamu melakukan kesalahan. Selama kamu bisa bersikap menghormati sekaligus jujur, sisanya serahkan kepada pihak lain untuk dicerna.
Keenam metode ini tidak harus dilakukan sekaligus, mulailah dengan memilih satu metode yang paling mudah dilatih minggu ini. Jika kamu ingin lebih memahami di mana posisi kamu pada spektrum komunikasi, apakah kamu terbiasa mengalah atau mendominasi saat menghadapi kebutuhan sehari-hari, kamu dapat melakukan tes ketegasan <a href="/assertiveness"> </a>, dan menggunakan hasilnya sebagai titik awal latihan, yang akan lebih memiliki arah dibandingkan bertahan dengan membabi buta.
Tiga reaksi, lihat perbedaannya dari situasi kehidupan
Teori sebanyak apa pun, tidak ada bandingannya dengan langsung memasukkannya ke dalam situasi kehidupan. Di bawah ini menggunakan beberapa skenario yang mungkin pernah kamu hadapi, dibandingkan dengan tiga jenis respons "pasif", "agresif", dan "tegas", kamu akan lebih jelas memahami seperti apa rupa ketegasan yang diucapkan secara nyata.
Respons yang tegas
- Diserobot dalam antrean: Ucapkan dengan tenang, "Maaf, saya sudah mengantre di depan Anda tadi," dengan nada bicara yang wajar dan tanpa amarah.
- Rekan kerja melimpahkan pekerjaan: katakan, "Progresku minggu ini sudah penuh, untuk hal ini aku tidak bisa membantu, kamu mungkin perlu mengonfirmasi prioritasnya dengan atasan."
- Kesalahan pesanan: panggil pelayan dan katakan, "Saya memesan yang tidak pedas, makanan ini sepertinya salah, tolong bantu ganti ya."
- Hasilnya: kebutuhan terungkap, batasan terjaga, di sebagian besar waktu pihak lain juga dapat menerimanya, dan hubungan tidak rusak.
⚠ Respons pasif atau menyerang
- Diserobot (pasif): Berpura-pura tidak melihat, diam-diam mundur ke belakang, sampai di rumah malah semakin kesal.
- Rekan kerja melimpahkan pekerjaan (pasif): di mulut bilang "baik, tidak masalah", lembur hingga larut malam, di dalam hati penuh dengan keluh kesah.
- Makanan salah (menyerang): Membentak dengan keras, "Bagaimana cara kalian bekerja?", suasana menjadi canggung, dan diri sendiri pun merasa tidak nyaman.
- Hasilnya: Kalau tidak kebutuhan dikorbankan, emosi tertumpuk ke dalam; kalau tidak menang sesaat, kalah dalam hubungan.
Jika kamu meletakkan ketiga kolom tersebut berdampingan dan melihatnya, kamu akan menyadari bahwa kalimat yang tegas sebenarnya tidak panjang, juga tidak setajam yang dibayangkan. Kalimat tersebut hanyalah cara menyampaikan hal yang tadinya dipendam dengan cara yang baik dan saling menghargai satu sama lain. Sering-seringlah membaca contoh-contoh ini, maka saat menghadapi situasi serupa di lain waktu, akan ada satu pilihan tambahan di dalam kepalamu yang bisa digunakan.
Orang Lain Tidak Bahagia, Bukan Berarti Kamu Salah
Di jalan berlatih menjadi orang yang tegas, hambatan terbesar biasanya bukanlah teknik, melainkan rasa bersalah di dalam hati yang berbunyi "apakah aku keterlaluan?". Saat pertama kalinya kamu menolak, pertama kalinya kamu mengekspresikan pendapat yang berbeda, dan melihat rona wajah pihak lain berubah, rasa tidak nyaman itu akan menjadi begitu kuat hingga membuatmu sangat ingin segera menariknya kembali, meminta maaf, dan berkompensasi. Pada saat ini, harap diingat: pihak lain memiliki emosi, dan kamu melakukan kesalahan, adalah dua hal yang berbeda.
Sebuah hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu bertahan dari ekspresi jujurmu. Jika sebuah hubungan hanya bisa bertahan saat kamu terus-menerus mengalah, maka hubungan itu sendiri sebenarnya tidak begitu kokoh, dan masalahnya bukanlah karena kamu akhirnya bersuara. Tentu saja, ketegasan bukan berarti meminta bersikap tidak kenal ampun; kamu tetap bisa lembut dan penuh perhatian, perbedaannya hanya terletak pada kenyataan bahwa kamu tidak lagi menjadikan pengorbanan diri sebagai satu-satunya bentuk kepedulian.
Berikan sedikit kesabaran pada dirimu sendiri. Saat awal berlatih, tangan akan bergetar, suara akan menegang, dan setelahnya akan terus mengoreksi diri, semua ini sangat normal, yang menandakan bahwa kamu sedang melangkah ke luar zona nyaman. Kamu tidak perlu langsung melakukannya dengan sempurna pada kesempatan pertama, asalkan kali ini kamu berbicara sedikit lebih banyak daripada sebelumnya, itu sudah merupakan sebuah kemajuan. Perlahan-lahan kamu akan menyadari bahwa ketika kamu mulai memasukkan perasaanmu sendiri ke dalam pertimbangan, orang-orang yang diperlakukan dengan hormat olehmu, sebagian besar juga akan belajar untuk lebih menghormatimu. Berani mengekspresikan diri tidak pernah bertujuan untuk mengalahkan siapa pun, melainkan agar kamu dapat dilihat oleh orang lain di dalam hubungan, tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Pertanyaan Umum FAQ
Apa bedanya mengekspresikan diri secara berani dengan galak serta dominan?
Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya rasa hormat terhadap pihak lain. Komunikasi yang agresif akan menggunakan tuduhan, perintah, atau emosi untuk menindas orang lain dengan tujuan untuk menang; sementara ketegasan adalah menyampaikan pikiran dan kebutuhan diri sendiri dengan jelas, sekaligus tidak merendahkan atau melangkahi batasan pihak lain. Singkatnya, agresi berarti "aku benar kamu salah", sedangkan ketegasan berarti "aku menghormatimu, dan aku juga menghormati diriku sendiri". Orang yang tegas biasanya lebih dipercayai, karena kebaikan maupun ketidakbaikannya adalah ucapan yang tulus, sehingga bergaul dengannya justru terasa lebih tenang dan tidak membuat orang merasa tertekan.
Aku terlahir introvert, apakah itu artinya aku tidak akan pernah bisa belajar komunikasi yang tegas?
Ketegasan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sifat ekstrovert atau introvert. Orang introvert tetap bisa mengekspresikan diri dengan lembut namun tegas, bahkan karena cenderung berpikir dulu sebelum berbicara, apa yang diucapkan sering kali jauh lebih jelas. Ketegasan adalah kemampuan komunikasi yang dapat dilatih, bukan sakelar kepribadian. Poin utamanya bukan pada seberapa besar suara atau seberapa cepat reaksi, melainkan apakah kamu bersedia menegaskan kebutuhanmu sendiri dan mengungkapkannya dengan cara yang saling menghargai. Mulailah berlatih perlahan dari hal-hal kecil dan situasi berisiko rendah, orang introvert pun dapat menumbuhkan ketegasan yang stabil.
Setiap kali menolak orang lain selalu merasa bersalah, apa yang harus dilakukan?
Rasa bersalah biasanya berasal dari sebuah kebiasaan: memikul tanggung jawab penuh atas emosi orang lain. Cobalah untuk membedakan dua hal ini, pihak lain mungkin merasa kecewa atau tidak senang, dan ini adalah reaksi yang wajar bagi mereka; sementara kamu hanya mengekspresikan pendirianmu secara jujur dan tidak berbuat salah. Hal yang bisa kamu lakukan adalah bersikap hormat sekaligus jujur, dan serahkan sisa emosinya untuk dicerna oleh pihak tersebut. Kamu bisa mulai berlatih dari penolakan berisiko rendah, setiap kali berhasil melakukannya, kamu akan mengumpulkan satu pengalaman "ternyata berkata tidak itu tidak apa-apa", dan rasa bersalah akan perlahan-lahan berkurang seiring dengan latihan, alih-alih memaksa diri sendiri untuk sama sekali tidak merasa bersalah dalam semalam.
Apakah kita harus menjelaskan banyak alasan saat menolak orang lain?
Biasanya tidak perlu. Menjelaskan serangkaian alasan justru mudah memberi celah bagi pihak lain untuk menyela dan menyangkal satu per satu, serta membuatmu terlihat tidak percaya diri. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan memperjelas pendirian saja, misalnya "aku tidak bisa memasukkannya ke dalam jadwal minggu ini" atau "kali ini lewat dulu", dan dengan tenang mengulangi kalimat yang sama saat dibutuhkan, tanpa harus terus-menerus menambahkan alasan. Singkat dan tegas sering kali memiliki bobot yang lebih besar daripada penjelasan yang panjang lebar. Tentu saja, kamu bisa memberikan penjelasan secukupnya saat menghadapi orang yang kamu pedulikan, tetapi ingatlah bahwa penjelasan tersebut lahir dari bentuk perhatian, bukan untuk mendapatkan izin dari pihak lain.
Tidak berani menolak pekerjaan yang dilimpahkan rekan kerja di tempat kerja, bagaimana cara mengatakannya dengan baik?
Kamu dapat menggunakan "pesan saya" (I-message) untuk meletakkan fokus pada fakta dan kondisi diri sendiri, alih-alih menyalahkan pihak lain. Contohnya "aku sudah memiliki beberapa kasus dalam antrean, kasus ini sepertinya tidak bisa dimasukkan minggu ini, kamu mungkin perlu mengonfirmasi urutan prioritasnya dengan atasan". Ungkapan seperti ini tidak hanya menjaga batasan diri, tetapi juga mengembalikan hak mengambil keputusan secara wajar kepada alur kerja, sehingga tidak mudah memicu penolakan dibandingkan langsung berkata "aku tidak mau". Jika khawatir dicap sebagai orang yang tidak kooperatif, kamu dapat secara bersamaan menyatakan kesediaan untuk membantu, tetapi jelaskan secara jelas batas beban kerjamu saat ini, di sebagian besar waktu pihak lain akan dapat memahaminya.